BANDUNG – Konsumsi mi instan kuah bisa tetap sehat jika dilakukan dengan cara yang tepat. Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah menyarankan masyarakat melakukan modifikasi bumbu dan menambahkan lauk serta sayuran agar kandungan natrium dapat ditekan dan kebutuhan gizi lebih seimbang.
Pendekatan ini penting mengingat Indonesia merupakan salah satu konsumen mi instan terbesar di dunia, dengan konsumsi mencapai lebih dari 14 miliar bungkus per tahun menurut data World Instant Noodles Association (WINA).
Diah menjelaskan, cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengurangi penggunaan bumbu bubuk bawaan mi instan dan menggantinya dengan bumbu dapur alami. Selain itu, lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan, serta sayuran kaya serat dan kalium seperti sawi, kangkung, tomat, dan ketimun dapat ditambahkan untuk menyeimbangkan kandungan gizi.
“Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” kata Diah kepada ANTARA, Senin (2/2).
Diah mengatakan dalam memasak mi instan kuah bisa dilakukan modifikasi dengan mengurangi penggunaan bumbu bubuk dan lakukan modifikasi, misal jika memasak untuk satu keluarga yang terdiri atas lima orang, maka penggunaan bumbu bubuk hanya tiga bungkus ditambahkan bumbu dapur seperti tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai segar.
Ia mengatakan, penambahan lauk saat mengonsumsi mi instan bisa berupa lauk hewani seperti telur, ayam suir, atau ikan untuk menambahkan protein.
Selain itu sayuran sebagai sumber kalium juga bisa ditambahkan untuk melengkapi kebutuhan serat dan menyeimbangkan kandungan natrium, seperti sawi hijau/putih, ketimun, kangkung, dan tomat.
Selain itu, Diah mengatakan hindari penambahan saos dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium, hindari penambahan pelengkap yang tinggi natrium seperti pilus, atau keripik asin dan tidak menghabiskan kuah mi, sehingga natriumnya dapat dikontrol.
Diah mengingatkan, jangan menambahkan mi instan dalam daftar belanja bulanan agar tidak tergoda untuk makan mi instan dalam keseharian, dan jadikan memakan mi instan hanya sebagai makanan rekreasi. Hal ini juga berlaku pada mi instan yang mengklaim lebih sehat yang dituliskan mi di panggang dan NonMSG.
Ia mengatakan klaim tersebut harus dicek kembali dengan melihat label informasi nilai gizi, energi, lemak dan natrium atau sodiumnya.
“Jika kita bandingkan dalam satu sajian energinya memang dapat berbeda 50 persennya dikarenakan teknik pemanggangan minya sehingga kandungan lemaknya pun signifikan lebih sedikit turun 40 persen,” katanya.
Dia mengatakan untuk kandungan natrium pada produk mi diet ada perbedaan namun untuk jenis mi yg dipanggang tidak signifikan berbeda bahkan ada yang lebih tinggi tergantung varian rasanya, bisa di atas 1.500 milligram tergantung dari varian rasa.
Ia menganjurkan untuk tetap tidak mengonsumsi mi dengan klaim sehat sebagai menu harian dan tetap harus diperhatikan frekuensi dan batasan atau aturan konsumsinya.