JAKARTA – Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menekankan bahwa orang dewasa tetap memiliki risiko terkena campak. Hal itu terjadi karena turunnya daya tahan tubuh serta riwayat imunisasi yang tidak lengkap. Oleh sebab itu, vaksinasi dipandang sebagai langkah utama dalam pencegahan.
“Sekitar delapan persen kasus campak di Indonesia terjadi pada usia dewasa,” kata Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM dalam PAPDI Forum dan konferensi pers di Jakarta, Selasa (31/3).
Dokter Konsultan Alergi Imunologi itu menegaskan anggapan bahwa campak hanya menyerang anak-anak tidak sepenuhnya benar. Ia menyebut kasus pada kelompok usia dewasa juga ditemukan.
Ia menjelaskan salah satu penyebab utama adalah waning immunity, yakni kondisi ketika kadar antibodi menurun sekitar 15 sampai 20 tahun setelah vaksinasi dilakukan. Selain itu, banyak orang dewasa tidak memiliki catatan imunisasi lengkap atau hanya menerima satu kali vaksin. Kondisi ini membuat perlindungan terhadap virus campak tidak maksimal.
Faktor lain yang ikut berperan adalah primary vaccine failure, yaitu tubuh tidak membentuk respons imun yang cukup setelah vaksinasi. Ditambah lagi berkurangnya paparan alami terhadap virus, sehingga tidak ada penguatan kekebalan secara alami.
Dalam situasi tersebut, orang dewasa bukan hanya berisiko tertular, tetapi juga bisa mengalami gejala lebih berat dibandingkan anak-anak. Bahkan, komplikasi yang muncul dapat membuat pasien harus dirawat di rumah sakit.
Sukamto menambahkan, kelompok yang paling rentan antara lain tenaga kesehatan, penderita penyakit kronis, orang dengan daya tahan tubuh lemah, serta pelancong ke daerah yang sedang mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak. Ia menegaskan vaksinasi adalah cara paling efektif untuk membentuk kekebalan sekaligus menekan penularan penyakit.
Selain melindungi individu, vaksinasi juga berperan menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Hal ini penting untuk melindungi bayi, ibu hamil, serta orang dengan gangguan sistem imun yang tidak bisa divaksin.
Menurut Sukamto, cakupan vaksinasi yang tinggi sangat diperlukan agar virus sulit menyebar di masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan cakupan vaksinasi campak mencapai 90 hingga 95 persen agar kekebalan kelompok bisa terbentuk secara optimal.
Ia menambahkan, secara global vaksinasi campak telah mencegah sekitar 59 juta kematian sepanjang periode 2000 hingga 2024.
PAPDI menilai peningkatan cakupan vaksinasi pada orang dewasa menjadi hal penting untuk mendukung pengendalian campak, terlebih di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi. **