JAKARTA – Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya, Dr. dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc., menjelaskan kalau penyakit campak itu ulah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae. Jadi, bukan sekadar flu biasa, melainkan serangan serius dari virus yang punya reputasi global.
Dalam keterangan pers Rabu lalu, dokter lulusan UGM ini bilang virus campak gampang banget menular lewat percikan ludah atau ingus penderita yang keluar saat batuk, bersin, atau bahkan bernapas. Artinya, sekali ada yang kena, risiko menular ke orang sekitar cukup tinggi.
Begitu masuk ke tubuh, virus ini nggak diam saja. Regina menjelaskan, virus campak langsung berkembang biak dan menyebar lewat saluran getah bening, limpa, hati, sampai sistem pernapasan.
Masa inkubasi campak biasanya antara delapan sampai 14 hari. Setelah itu, gejala mulai muncul bertahap.
Tahap awal biasanya berlangsung dua sampai tujuh hari. Penderita akan mengalami demam tinggi, badan lemas, pilek, batuk, serta mata merah yang sensitif terhadap cahaya.
Kadang muncul juga tanda khas berupa bercak putih di bagian dalam pipi, yang dikenal dengan istilah Koplik spots.
Tahap berikutnya adalah ruam. Biasanya muncul di hari ke-4 sampai ke-14. Ruam merah mulai dari telinga atau wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh dalam enam sampai tujuh hari, sering disertai demam tinggi.
Saat masuk fase penyembuhan, demam biasanya turun dalam tiga sampai empat hari. Ruam berubah warna jadi kecokelatan dan perlahan hilang dalam waktu tujuh sampai 10 hari.
“Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada campak, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan serta membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut,” kata Regina.
Menurut Regina, banyak kasus campak bisa sembuh sendiri. Tapi jangan anggap remeh, karena komplikasi serius bisa muncul.
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain radang paru, diare, dehidrasi, infeksi telinga tengah, sampai peradangan otak.
Risiko komplikasi lebih besar pada bayi, orang dengan imun lemah, serta mereka yang kekurangan gizi atau vitamin A.
Bagi ibu hamil, infeksi campak bisa berbahaya karena meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan berat rendah.
Regina mengingatkan bahwa kasus campak masih ada di Indonesia. Tahun 2025 tercatat 11.094 kasus dengan 69 kematian.
Sementara di minggu ketujuh tahun 2026, sudah ada 572 kasus campak dan empat kematian.
Ia menekankan pentingnya pencegahan, apalagi saat Lebaran ketika interaksi sosial meningkat.
“Vaksinasi campak atau MMR merupakan cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini,” katanya.
Regina menjelaskan vaksin campak direkomendasikan diberikan tiga kali, yaitu saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan lima sampai enam tahun.
Selain vaksin, gaya hidup bersih dan sehat juga jadi kunci pencegahan. Mulai dari rajin cuci tangan, etika batuk dan bersin, pakai masker saat sakit, makan bergizi, sampai rutin olahraga. **