JAKARTA – Ahli gizi mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan takjil sebagai sumber utama saat berbuka puasa. Kalau hanya mengandalkan takjil, risiko kekurangan zat gizi penting bisa muncul.
“Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien,” kata Rita yang merupakan Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA), Jumat (20/2).
Dikutip dari ANTARA, Rita mengatakan, takjil yang umum dikonsumsi masyarakat biasanya berbahan dasar tepung, gula, dan minyak. Kandungan utamanya karbohidrat dan lemak, sementara protein dan mikronutriennya rendah.
Kondisi ini bisa berdampak pada kecukupan gizi kalau seseorang merasa kenyang hanya dengan takjil lalu melewatkan makan utama.
“Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien,” ujarnya.
Protein punya peran penting menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, dan mendukung sistem kekebalan selama berpuasa.
Menurutnya, kebutuhan berbuka puasa sebenarnya bukan pada takjil, melainkan pada peningkatan kadar gula darah secara bertahap setelah seharian menurun. Hal itu bisa dipenuhi dengan konsumsi kurma atau buah serta cairan seperti air putih.
“Takjil itu bukan kebutuhan, tapi keinginan. Kalau ingin konsumsi, cukup satu sampai dua potong saja,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat tetap melanjutkan dengan makan utama yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam komposisi seimbang. Dengan begitu, kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi dan puasa bisa dijalani tanpa mengorbankan kecukupan protein serta zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. **