JAKARTA – Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengingatkan bahwa ulkus kaki diabetik alias diabetic foot ulcer (DFU) adalah salah satu komplikasi paling umum dan serius dari penyakit diabetes melitus. Kondisi ini muncul sebagai luka terbuka atau borok di kaki, biasanya di telapak atau sekitar jari, terutama pada penderita diabetes jangka panjang.
Ulkus kaki diabetik terjadi karena kombinasi tiga hal: aliran darah yang buruk (iskemia), kerusakan saraf (neuropati), dan infeksi. Kalau tidak ditangani dengan baik, luka ini bisa berujung pada infeksi berat, kematian jaringan, bahkan amputasi.
Penanganan ulkus kaki diabetik butuh perhatian medis yang serius dan kerja sama antara dokter, perawat, dan pasien. Jadi bukan sekadar luka biasa, tapi masalah kesehatan yang bisa mengubah hidup seseorang.
Ada beberapa alasan kenapa penderita diabetes gampang kena ulkus kaki. Pertama, neuropati alias kerusakan saraf akibat gula darah tinggi dalam jangka panjang. Akibatnya, kaki jadi kebas dan penderita nggak sadar kalau ada luka kecil atau lecet. Luka kecil ini bisa berkembang jadi masalah besar.
Kedua, sirkulasi darah yang buruk atau peripheral arterial disease (PAD). Diabetes bikin pembuluh darah rusak, sehingga oksigen dan nutrisi ke jaringan berkurang. Luka jadi susah sembuh dan tubuh makin lemah melawan infeksi.
Ketiga, kelainan bentuk kaki seperti hammertoe, bunion, atau kaki charcot. Kondisi ini bikin tekanan di kaki nggak merata, ditambah neuropati, luka jadi gampang muncul. Faktor lain yang bikin risiko naik: sepatu nggak pas, kebersihan kaki buruk, merokok, dan lamanya menderita diabetes.
Gejala dan Klasifikasi
Ulkus kaki diabetik biasanya tampak sebagai luka terbuka dengan tepi menebal dan kulit sekitar yang kapalan. Luka bisa ringan atau parah sampai ke tulang. Karena banyak penderita mengalami neuropati, mereka sering nggak merasa sakit meski lukanya parah.
Tanda infeksi bisa berupa kemerahan, bengkak, bau nggak sedap, atau nanah. Kalau makin parah, jaringan bisa mati dan jadi gangren. Dokter biasanya pakai sistem klasifikasi seperti WIFi untuk menilai kedalaman luka, infeksi, dan iskemia.
Kalau pasien diabetes datang dengan luka di kaki, dokter akan cek aliran darah lewat denyut nadi atau tes seperti ankle-brachial index (ABI) dan USG Doppler. Sensasi kaki juga diperiksa dengan monofilament atau garpu tala untuk menilai neuropati.
Kalau ada dugaan infeksi, dokter ambil sampel luka untuk kultur dan tes antibiotik. Kadang perlu rontgen atau MRI buat lihat infeksi tulang atau abses tersembunyi. Selain itu, kadar gula darah pasien juga dicek karena kontrol gula yang buruk bikin luka susah sembuh.
Terapi dan Penanganan
Tujuan utama terapi ulkus kaki diabetik adalah mempercepat penyembuhan, mencegah infeksi, dan mengurangi tekanan di area luka. Caranya:
Perawatan luka: dibersihkan rutin, jaringan mati diangkat (debridement), dan balutan khusus dipakai sesuai kondisi luka.
Mengurangi tekanan (offloading): pakai alas kaki khusus, total contact cast, atau alat ortotik.
Pengendalian infeksi: antibiotik oral untuk infeksi ringan, antibiotik intravena dan rawat inap untuk infeksi berat.
Bedah vaskular: angioplasti, stent, atau bypass untuk memperbaiki aliran darah.
Kontrol gula darah: pola makan sehat, obat sesuai anjuran, dan cek gula rutin.
Pendekatan multidisiplin penting: dokter penyakit dalam, ahli bedah vaskular, podiatris, perawat, dan tim perawatan luka harus kerja bareng. Edukasi pasien dan keluarga juga jadi bagian penting.
Pencegahan
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Penderita diabetes harus rajin cek kaki setiap hari, bersihkan dan keringkan dengan baik, serta pakai sepatu nyaman. Kunjungan rutin ke tenaga kesehatan bisa mendeteksi masalah sejak dini.
Berhenti merokok, menjaga gula darah, dan mengontrol tekanan darah juga bisa menurunkan risiko ulkus. Dengan perawatan tepat, edukasi, dan deteksi dini, sebagian besar kasus bisa dicegah atau disembuhkan sebelum berujung amputasi.
Buku Rutherford’s Vascular Surgery and Endovascular Therapy menekankan bahwa keberhasilan pengobatan bergantung pada penanganan semua faktor penyebab — neuropati, gangguan sirkulasi, dan infeksi — dengan tim multidisiplin. Memberdayakan pasien agar aktif menjaga kesehatan kaki tetap jadi kunci utama. **