Kenali Tiga Stadium Gejala Campak yang Harus Diwaspadai

ILUSTRASI campak. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Gejala campak ternyata memiliki tahapan yang jelas dan harus diwaspadai sejak awal. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), menyampaikan ada tiga stadium gejala campak yang perlu diperhatikan.

Dalam seminar media yang digelar daring dari Jakarta, Sabtu, Prof Anggraini menjelaskan tiga stadium itu dimulai dari fase prodromal atau awal, ditandai dengan demam tinggi serta gejala khas “3C”, yakni Coryza (pilek), Cough (batuk), dan Conjunctivitis (mata merah).

“Mulai sakit-sakit, demamnya naik tinggi, ada 3C coryza, conjunctivitis, cough yang khas, ini 3 sampai 5 hari. Kalau dokter akan memeriksa ada atau tidak koplik’s spot (bintik-bintik putih muncul pada area mulut) sebelum munculnya yaitu ruam yang khas dari campak,” kata Prof Anggraini.

Setelah fase prodromal, muncul stadium erupsi yang ditandai dengan ruam kemerahan di kulit. Ruam ini menyebar bertahap dari belakang telinga, lalu ke batang tubuh, hingga ke lengan dan tungkai.

“Sebagai first disease karena satu-satunya hanya campaklah yang ruamnya itu biasanya mulai dari kulit dekat rambut. Jadi kita suka periksa di belakang telinga, kemudian dia akan menyebar ke batang tubuh, barulah dia ke lengan, tungkai,” ujarnya.

Tahap berikutnya adalah fase konvalesens. Pada fase ini, ruam berubah warna menjadi lebih gelap, kemudian mengering dan tampak bersisik.

“Khas dari campak pada stadium konvalesen, dia berubah makin mengumpul ruamnya, menggelap, kemudian hilang dengan tampak bersisik,” ujarnya.

Prof Anggraini menegaskan, virus campak menular lewat udara (airborne), bukan melalui sentuhan langsung. Penularan terjadi lewat percikan batuk, bersin, bahkan saat berbicara.

Virus bisa bertahan di udara lebih dari dua jam dan menempel pada permukaan maupun debu. Lingkungan lembap, padat penduduk, dan minim ventilasi membuat penyebaran semakin cepat.

“Jadi penularan campak itu bukan main. Mirip seperti TBC, bayangkan dari satu itu bisa ke 18,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, masa inkubasi virus campak bisa mencapai tiga minggu. Pada periode ini, virus sudah masuk ke tubuh namun belum menimbulkan gejala.

Gejala biasanya baru muncul setelah paparan, ditandai dengan demam dan ruam.

“Sampai pada akhirnya ruam muncul 10 harian lebih, barulah anak atau kita yang bekerja baru boleh bekerja lagi, karena kalau tidak akan menularkan ke sekitarnya. Artinya si ruamnya itu sudah seperti kering sisik, paling tidak menghitam mengering, barulah itu tidak menularkan lagi,” jelasnya.

Campak dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB), dibutuhkan herd immunity minimal 94 persen di suatu wilayah.

Karena itu, cakupan imunisasi harus tinggi dan merata. Jika angka imunisasi di bawah ambang batas, risiko KLB meningkat.

“Karena agar tidak KLB kita butuh orang-orang sekitar kita juga terjaga oleh imun terhadap campak. Sekali divaksin campak dikatakan bisa mencegah campak rentangnya luas, 84 sampai 93 persen,” terangnya.

Prof Anggraini menambahkan, pemerintah sudah menetapkan jadwal imunisasi campak sebanyak tiga kali. Pertama saat anak berusia 9 bulan, kedua pada usia 18 bulan, dan ketiga saat anak duduk di kelas 1 SD.

Imunisasi campak diberikan berulang dengan virus yang dilemahkan. Dosis dan waktu pemberian harus tepat agar tubuh mampu membentuk antibodi tinggi.

“Upayakan setiap balita imunisasinya lengkap sebelum masuk PAUD, ayo kalau terlewat itu kejar. Satu campak saja waduh bisa menularkan ke mana-mana, sehingga imunisasi yang lain diingatkan,” kata dia.

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu