Hati-Hati Kalau Pipis Disemutin, Itu Salah Satu Tanda Diabetes! Cek Gejala dan Komplikasinya di Sini

ILUSTRASI diabetes. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Memahami tubuh sendiri itu penting banget, apalagi soal urusan gula darah yang seringkali jadi “silent killer”. Baru-baru ini, dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM, membagikan informasi penting soal gejala diabetes melitus (DM) yang perlu kita waspadai, mulai dari yang sifatnya jangka pendek sampai komplikasi kronis.

“Jadi, kalau kita sebut gejala klasik dari diabetes itu adalah 4P mulai dari kadar gula tinggi dan penurunan berat badan, banyak makan, banyak berkemih, dan cepat haus,” kata Wirawan dalam temu media di Jakarta seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (25/2).

Nah, tanda-tanda ini nih yang sering disebut sebagai “red flag” awal kalau ada yang nggak beres dengan sistem metabolisme kamu.

Wirawan menyampaikan kenaikan kadar gula darah tinggi dan penurunan berat badan secara drastis dapat terjadi karena gula tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh, karena kekurangan insulin.

Akibatnya, sel tubuh menjadi lapar dan mendorong penderita diabetes melitus untuk makan secara terus menerus. Jadi, jangan heran kalau berat badan turun tapi nafsu makan malah menggila.

“Makanya kita bisa lihat bahwa ada situasi di mana pasien yang diabetes lanjut tidak diobati, yang tadinya gemuk, perlahan-lahan berat badannya turun. Kenapa? Karena tidak bisa terjadi utilisasi glukosa oleh sel-sel,” katanya.

Intinya, meski kita makan banyak, sel tubuh kita sebenarnya “kelaparan” karena nggak bisa menyerap energi dari gula tersebut.

Gejala berikutnya adalah banyak makan atau polifagia. Gejala ini membuat penderita merasakan lapar yang berlebihan atau nafsu makan meningkat secara tidak wajar. Ini bukan sekadar doyan ngemil ya, tapi rasa lapar yang benar-benar sulit dibendung karena sinyal energi di otak nggak sampai.

Penderita diabetes melitus juga akan banyak berkemih atau buang air kecil. Menurutnya, urine yang dibuang pada jamban biasanya sering didatangi oleh semut.

Hal ini menandakan bahwa gula darah yang makin tinggi juga dikeluarkan melalui urine. Wah, kalau sudah sampai diserbu semut, itu tandanya kadar gula dalam kencing sudah sangat pekat.

“Air kencing orang diabetes itu mengandung gula, sehingga osmotiknya tinggi, sehingga sebenarnya akan menarik cairan dari dalam tubuh. Itu makanya kenapa orang diabetes itu banyak kencing,” ujarnya. Proses inilah yang bikin frekuensi ke toilet jadi berkali-kali lipat lebih sering dari biasanya.

Osmotik yang dimaksud adalah Diuresis osmotik adalah peningkatan produksi urin (buang air kecil berlebih) yang disebabkan oleh adanya zat terlarut (seperti glukosa, manitol, atau urea) dalam konsentrasi tinggi di ginjal.

Penumpukan zat terlarut ini memaksa ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan cairan tersebut.

Intensitas buang air kecil di atas batas normal akhirnya membuat penderita diabetes melitus cepat merasa haus (polidipsia). Karena cairan tubuh terus-terusan dikuras lewat urine, otomatis tubuh mengirim sinyal haus yang luar biasa supaya kita terus minum untuk mengganti cairan yang hilang.

Dia turut membeberkan komplikasi diabetes melitus dapat digolongkan menjadi dua yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penting banget buat kita tahu bedanya supaya nggak kecolongan saat kondisi tubuh mulai menurun.

Pada komplikasi jangka pendek umumnya terjadi akibat perubahan drastis kadar gula darah yang terlalu tinggi atau rendah dalam waktu yang singkat, yang dapat memicu kondisi darurat medis seperti koma diabetik. Kondisi ini butuh penanganan super cepat karena taruhannya adalah nyawa.

Adapun komplikasi jangka panjang terjadi akibat tingginya kadar gula darah yang tidak terkontrol hingga dapat menyebabkan rusaknya pembuluh darah kecil, pembuluh darah besar, serta non-pembuluh darah. Masalah ini biasanya muncul pelan-pelan tapi efeknya bisa sangat merusak kualitas hidup.

Gangguan pembuluh darah kecil di antaranya dapat mengakibatkan kebutaan dan gangguan ginjal. Adanya gangguan pembuluh darah besar di antaranya dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner dan stroke. Ngeri juga ya kalau bayangin dampaknya sampai ke organ-organ vital seperti itu.

Sementara komplikasi jangka panjang non-pembuluh darah di antaranya adalah perlemakan hati dan gangguan peristaltik usus. Jadi, yuk lebih peduli sama pola hidup sehat sebelum gejala-gejala di atas muncul! **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu