BANDUNG – Gangguan bicara pada anak ternyata bisa menjadi sinyal awal adanya masalah pendengaran. Kondisi ini patut diwaspadai orang tua, terutama bagi anak yang belum pernah menjalani skrining pendengaran sejak dini.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K), dalam siaran langsung di akun Instagram @rscm.kencana, Rabu (4/3).
“Biasanya pada anak-anak yang mengalami tuli atau gangguan telinga sejak lahir itu, dia perkembangan bicaranya terganggu juga ya. Misalkan pada usia 6-8 bulan itu dia belum bisa babbling atau ngoceh-ngoceh. Atau dia belum bisa berkata kata-kata yang mengulang seperti mama, papa gitu ya,” kata dokter Fikry.
Menurutnya, pendengaran memiliki peran penting dalam mendukung kemampuan bicara anak. Gangguan pada telinga bisa berdampak langsung pada tumbuh kembang bahasa si kecil.
Meski demikian, dokter Fikry menekankan bahwa tidak semua keterlambatan bicara berarti anak mengalami gangguan pendengaran. Ada kemungkinan anak memiliki pendengaran normal.
Faktor lain yang bisa memengaruhi keterlambatan bicara antara lain penggunaan gawai berlebihan (screentime) serta ketidakonsistenan penggunaan bahasa di rumah.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan berbagai faktor penyebab sebelum langsung mencurigai adanya masalah pendengaran pada anak.
Jika kemudian terbukti anak mengalami gangguan pendengaran, salah satu rehabilitasi yang bisa dilakukan adalah terapi pendengaran atau Auditory Verbal Therapy (AVT).
Terapi ini merupakan intervensi dini yang dirancang untuk membantu anak dengan gangguan pendengaran agar dapat mengembangkan kemampuan mendengar sekaligus berbicara bahasa lisan.
Secara global, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 95 juta anak dan remaja usia 5 hingga 19 tahun mengalami gangguan pendengaran yang tidak tertangani dan tidak mendapat akses layanan yang memadai.
WHO juga menegaskan, hampir 60 persen masalah telinga dan pendengaran sebenarnya bisa dicegah atau diobati jika tersedia tenaga kesehatan terlatih, peralatan, dan obat-obatan yang memadai.
Namun, kenyataannya 80 persen penderita gangguan telinga dan pendengaran belum mendapatkan perawatan yang seharusnya, sehingga berdampak pada kualitas hidup mereka. **