Patroli Hingga Layanan Psikolog, Bandung Cari Cara Atasi Lonjakan Kasus Bunuh Diri

SEJUMLAH kasus bunuh diri terjadi di Jembatan Layang Pasupati. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Fenomena percobaan bunuh diri di Kota Bandung kini jadi perhatian serius pemerintah daerah. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai meningkatnya kasus ini menunjukkan kondisi stres dan depresi masyarakat yang tak bisa lagi dianggap sepele.

Farhan menyebut, hampir setiap pekan ada saja warga yang mencoba mengakhiri hidupnya, terutama di kawasan Jembatan Pasupati. Menurutnya, hal ini sangat mengkhawatirkan karena memperlihatkan masalah kesehatan mental yang nyata di tengah masyarakat.

“Fenomena bunuh diri di Kota Bandung ini menunjukkan bahwa tingkat stres dan depresi warga sudah tidak bisa diabaikan lagi. Terbukti hampir setiap minggu selalu ada saja orang yang berusaha bunuh diri di Bandung, khususnya di Jembatan Pasupati,” ujar Farhan saat wawancara di Pendopo Kota Bandung, Senin, 9 Maret 2026.

Ia menjelaskan, saat ini pencegahan dilakukan lewat patroli gabungan Forkopimcam Bandung Wetan. Namun, Farhan mengakui patroli tidak selalu bisa menjamin kejadian tersebut dapat dicegah.

“Itulah sebabnya Forkopimcam Bandung Wetan melakukan patroli setiap hari. Namun patroli tentu ada kemungkinan meleset. Kalau patroli meleset dan ternyata ada yang terjun, itu sangat berbahaya,” katanya.

Karena itu, Pemkot Bandung memilih fokus pada pencegahan sejak dini, terutama di dunia pendidikan. Berdasarkan survei, sekitar 75 ribu pelajar dari tingkat SD hingga SMA di Bandung mengalami stres ringan hingga depresi berat.

Farhan menambahkan, tindakan bunuh diri biasanya bukan keputusan mendadak. Kebanyakan kasus muncul setelah seseorang mengalami depresi berat dalam waktu lama.

“Biasanya mereka sudah mengalami depresi selama dua tahun terakhir, bahkan depresi yang sangat kuat. Jadi bunuh diri itu hampir tidak pernah terjadi secara spontan. Artinya, penanganannya harus dilakukan sejak awal,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Bandung menunggu program Kementerian Kesehatan yang akan menempatkan psikolog klinis di puskesmas. Dengan begitu, masyarakat bisa langsung mengakses layanan kesehatan mental di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Di puskesmas nanti akan ada layanan psikologis. Pada saat bersamaan para psikolog juga akan melatih guru BK agar mampu mengidentifikasi murid-murid yang mengalami gangguan psikologis,” kata Farhan.

Meski begitu, layanan ini belum bisa tersedia di semua puskesmas karena keterbatasan tenaga psikolog klinis. Dari sekitar 80 puskesmas di Bandung, program akan dijalankan secara bertahap.

Selain itu, Pemkot Bandung juga tengah mengkaji pengamanan di Jembatan Pasupati. Farhan menyebut sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat karena jembatan tersebut merupakan kewenangan pusat.

Tahap awal, Pemkot mempertimbangkan pemasangan CCTV untuk meningkatkan pengawasan, serta mengkaji kemungkinan meninggikan pembatas jembatan atau memasang sistem pengaman lain.

“Kita harus kaji matang-matang. Kalau pengamannya ditinggikan pun bisa saja dipanjat. Memasang jaring juga tidak sederhana karena harus cukup kuat menahan orang. Jadi banyak aspek teknis yang harus dipertimbangkan,” ujarnya.

Camat Bandung Wetan, Rizka Aryani, menambahkan patroli gabungan yang melibatkan kecamatan, Koramil, Polsek, dan unsur kewilayahan sudah berjalan dua pekan terakhir.

Dalam periode itu, tercatat ada lima kasus percobaan bunuh diri di Pasupati. Beberapa berhasil digagalkan berkat patroli maupun bantuan warga yang kebetulan melintas.

“Dua pekan berjalan itu sudah lima kali kejadian. Yang terekspos di media sosial mungkin hanya tiga, tapi sebenarnya lebih dari itu. Alhamdulillah beberapa bisa dicegah karena patroli atau karena warga yang kebetulan lewat,” kata Rizka, Selasa 10 Maret 2026.

Namun, Rizka mengakui patroli cukup berat karena keterbatasan personel. Di sisi lain, kecamatan juga harus menangani urusan lain seperti lalu lintas, penertiban PKL, hingga persiapan Idulfitri.

“Berat sekali dengan kekuatan personel yang terbatas. Linmas kami hanya sekitar 25 orang. Tapi ini sudah menjadi kewajiban kami, jadi tetap dijalankan,” ujarnya.

Selain patroli, pihak kecamatan juga berkoordinasi dengan Balai Besar Jalan dan Kementerian PUPR untuk membahas kemungkinan pemasangan pengaman tambahan seperti ram besi di jembatan.

Meski begitu, Rizka menilai masalah bunuh diri tidak cukup diatasi dengan pengamanan fisik semata. Menurutnya, akar persoalan ada pada kesehatan mental warga yang harus ditangani bersama.

“Ini sebenarnya bukan hanya masalah pengamanan di Pasupati. Tapi bagaimana kita menangani persoalan mental health warga. Sekarang semakin banyak warga yang mengalami tekanan mental,” katanya.

Ia berharap semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat, bisa terlibat dalam upaya pencegahan agar tidak ada lagi warga yang memilih mengakhiri hidupnya.

“Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi warga yang berniat bunuh diri. Ini persoalan kemanusiaan yang harus kita tangani bersama,” harapnya. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu