PURWOKERTO – Puasa Ramadhan bukan halangan buat penderita diabetes melitus, asal persiapan dilakukan dengan benar. Dokter spesialis penyakit dalam, Pugud Samodro, menegaskan kalau kuncinya ada di disiplin pola makan, evaluasi kesehatan, dan pengawasan medis.
“Yang terpenting bagi penyandang diabetes adalah melakukan evaluasi kondisi kesehatan sebelum Ramadhan, menyesuaikan jadwal serta dosis obat, dan tetap memantau gula darah selama berpuasa agar risiko dapat dicegah sejak dini,” kata dosen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (19/2)
Menurut Pugud, perubahan pola makan dan waktu konsumsi obat saat puasa harus jadi perhatian khusus. Diabetes melitus sendiri adalah penyakit kronis dengan kadar gula darah tinggi akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin.
“Pengelolaannya membutuhkan pengaturan makan, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, serta konsumsi obat atau insulin secara teratur,” kata dia Pugud.
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme. Awalnya pakai cadangan glukosa di hati, lalu beralih ke pembakaran lemak. Buat orang sehat, ini normal. Tapi bagi penderita diabetes, bisa bikin gula darah jadi nggak stabil.
Secara umum, kata dia, penderita diabetes boleh berpuasa kalau gula darah terkontrol, tidak sering hipoglikemia, tidak punya komplikasi berat, patuh minum obat, dan rutin cek gula darah.
Sebaliknya, puasa tidak dianjurkan bagi pasien dengan gula darah sangat tidak stabil, sering hipoglikemia berat, penyakit ginjal stadium lanjut, penyakit jantung berat, stroke baru, serta diabetes pada kehamilan.
Pugud menyarankan pasien diabetes konsultasi ke dokter satu hingga dua bulan sebelum Ramadhan untuk evaluasi kesehatan dan penyesuaian terapi.
Soal pola makan, ia mengingatkan sahur jangan sampai dilewatkan. Menu sahur sebaiknya berisi karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan lemak sehat secukupnya. Hindari makanan manis berlebihan dan gorengan.
Saat berbuka, kata dia, pasien diabetes disarankan mulai dengan air putih dan kurma secukupnya. Setelah itu makan bertahap dengan banyak sayur dan protein, serta batasi minuman tinggi gula.
Kebutuhan cairan juga wajib dijaga, minimal delapan gelas air dari waktu berbuka sampai sahur. Kopi dan teh berlebihan sebaiknya dihindari.
“Obat diabetes tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter dengan penyesuaian waktu minum, dan pemeriksaan gula darah mandiri tidak membatalkan puasa,” kata dia.
Aktivitas fisik ringan seperti jalan santai setelah berbuka atau tarawih dianjurkan. Tapi olahraga berat di siang hari sebaiknya dihindari.
Pugud mengingatkan, puasa harus segera dibatalkan kalau muncul tanda bahaya seperti lemas berat, pusing hebat, gemetar, keringat dingin, atau hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL.
“Jika dijalankan dengan benar, puasa juga dapat memberi manfaat bagi penyandang diabetes, antara lain membantu pengendalian berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperbaiki metabolisme tubuh, dengan dukungan keluarga sebagai faktor penting dalam menjaga kepatuhan perawatan,” kata Pugud.