7 Juta Orang Indonesia Alami Fibrilasi Atrium

ILUSTRASI jantung. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Gangguan irama jantung ternyata bukan hal sepele. Data terbaru dari Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI) nunjukin kalau prevalensi fibrilasi atrium di Indonesia mencapai 3,2 persen populasi.

Itu artinya lebih dari tujuh juta orang berpotensi mengalami kondisi ini. Melihat angka sebesar itu, deteksi dini jadi hal super penting. Soalnya, fibrilasi atrium bisa langsung memicu stroke dalam waktu singkat dan dampaknya berat banget.

“Jadi satu hal yang saya kira memberikan satu peringatan kepada kita bahwa ada potensi, karenanya stroke yang besar di situ, 3,2 persen itu setelah disesuaikan dengan umur, saya menghitung seharusnya ada sekitar 7 juta orang Indonesia yang AF, banyak sekali,” kata Guru Besar Kardiologi dan Aritmia FKUI, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, dalam konferensi pers Pulse Day 2026 bertema Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jumat (13/2).

Profesor Yoga menjelaskan fibrilasi atrium adalah kelainan irama jantung paling sering terjadi dan jadi penyebab utama stroke kardioembolik, yaitu stroke akibat gumpalan darah dari jantung.

“Risiko stroke pada pasien fibrilasi atrium sekitar lima kali lipat lebih tinggi dibanding orang tanpa fibrilasi atrium. Stroke akibat kondisi ini juga cenderung lebih berat, dengan risiko kematian dalam 30 hari dan kecacatan jangka panjang lebih tinggi,” kata Profesor Yoga.

Ia menambahkan, gangguan irama ini dipicu aktivitas listrik yang nggak teratur di serambi jantung. Akibatnya, aliran darah jadi nggak normal dan bisa membentuk gumpalan. Kalau gumpalan itu lepas, bisa langsung nyumbat pembuluh darah otak.

Stroke akibat fibrilasi atrium bisa muncul cepat banget, bahkan dalam 24 jam sampai beberapa hari setelah gangguan irama terjadi. Berbeda dengan stroke karena hipertensi yang biasanya berkembang bertahun-tahun.

Profesor Yoga juga mengingatkan kalau banyak kasus fibrilasi atrium nggak menimbulkan gejala. Sekitar 15–50 persen kasus bersifat silent, dan sering kali stroke jadi tanda pertama penyakit ini.

“Banyak pasien tidak sadar memiliki fibrilasi atrium. Saat terdeteksi justru sudah terjadi stroke. Padahal jika ditemukan lebih awal dan diobati, risiko stroke bisa ditekan secara bermakna,” ujarnya.

Konferensi pers ini merupakan bagian dari kampanye Pulse Day 2026 yang fokus meningkatkan kesadaran masyarakat soal gangguan irama jantung dan pentingnya skrining sederhana lewat perabaan nadi mandiri.

Profesor Yoga sendiri adalah penggagas metode MENARI (Meraba Nadi Sendiri), yaitu cara mudah meraba nadi untuk mengetahui ritme jantung seseorang. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu