Tips Atasi Anak Picky Eater, Sensory Play Jadi Solusi Anak Pemilih Makanan

Ilustrasi anak picky eater. (Foto/Shutterstock)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, memberikan penjelasan mengenai langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi anak yang terlalu pemilih makanan atau dikenal dengan istilah picky eater.

Dalam sebuah diskusi kesehatan yang berlangsung di Jakarta, Jumat, dokter Ian menyebutkan bahwa salah satu cara efektif adalah dengan melibatkan anak dalam sensory play atau permainan sensorik menggunakan beragam tekstur makanan, serta menerapkan metode sensory food hierarchy secara bertahap.

“Kita atasi dulu picky eaternya, boleh lakukan misalnya sensory play dengan berbagai macam tekstur (makanan) cari segala macam ide-ide sensory play setiap harinya ada. Kemudian, Anda boleh belajar tentang sensory food hierarchy,” kata dokter Ian.

Metode sensory food hierarchy menurutnya dapat membantu anak mengenal makanan melalui tahapan interaksi yang lebih alami.

Dokter yang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjelaskan, orang tua bisa memulai dengan meletakkan makanan yang tidak disukai anak di piring setiap hari.

Tujuannya agar anak terbiasa melihat makanan tersebut tanpa adanya paksaan. Dalam proses ini, anak biasanya melewati beberapa tahap mulai dari melihat, penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba untuk memakannya.

“Kalau dia picky eater anaknya enggak mau makan daging sama sekali, tiap hari Anda harus kasih daging di dalam piring, suruh anak lihat terus, perkara dia enggak mau makan nggak apa-apa yang penting tiap hari dibiasain ada di situ. Lama-lama anak terbiasa melihat, pasti penasaran,” ujar dia.

Selain itu, dokter Ian juga mengingatkan agar orang tua memastikan terlebih dahulu apakah anak benar-benar mengalami alergi susu sapi. Hal ini penting karena banyak kasus anak yang disebut picky eater ternyata dikaitkan dengan dugaan alergi susu sapi.

Ia menambahkan, sering kali ditemukan pasien yang diklaim alergi susu sapi, namun setelah diperiksa ternyata tidak memiliki alergi tersebut.

“Kalau semua susu tinggi kalori pasti yang namanya susu pasti mengandung susu sapi. Tapi ingat dulu nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau enggak,” imbuh dia.

Untuk mengetahui apakah anak alergi susu sapi, dokter Ian menyarankan agar orang tua mencoba memberikan susu tersebut dan memperhatikan apakah muncul gejala seperti ruam, muntah, batuk, atau pilek. Jika gejala muncul, konsumsi susu sapi sebaiknya dihentikan sementara.

“Kasih susu sapi kalau dia misalnya punya gejala terus stop susu sapinya selama 2-4 minggu gejalanya hilang secara konstan hilang. Terus Anda harus coba pakai susu sapi lagi, direchallenge lagi ternyata muncul gejala dalam 1-3 hari, maka memang betul anak itu alergi susu sapi,” kata dia.

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu