Pemkot Bandung Bangun Sistem Deteksi Dini Tangani Mental Pelajar

PEMKOT Bandung gandeng psikolog tangani kesehatan mental pelajar. (Foto: Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung memperkuat kerja sama lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani persoalan kesehatan mental sekaligus penguatan karakter pelajar.

Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang menekankan pentingnya membangun ketahanan mental anak sejak usia dini, terutama di jenjang TK, SD, hingga SMP.

Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menjelaskan bahwa upaya penguatan kesehatan mental siswa sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2025 melalui sejumlah program strategis. Salah satunya adalah program penguatan karakter dengan pendekatan bela negara yang melibatkan TNI dan Polri.

“Program ini diluncurkan oleh Pak Wali Kota untuk membangun pola pikir positif anak-anak, menanamkan kemandirian, rasa tanggung jawab dan ketahanan mental agar mereka tidak mudah terprovokasi atau terintimidasi. Tahun lalu kami prioritaskan untuk siswa kelas 9 SMP yang memang berada di fase paling rentan,” kata Asep di Pendopo Kota Bandung, Jumat (6/2).

Dalam pelaksanaannya, Disdik berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Dinas Sosial (Dinsos). Menurut Asep, ketiga OPD tersebut memiliki program strategis yang saling melengkapi dalam mendukung penguatan karakter dan kesehatan mental anak.

“Penanganan kesehatan mental tidak bisa berdiri sendiri. Harus kolaboratif, karena persoalan anak menyentuh aspek pendidikan, kesehatan, perlindungan anak hingga sosial,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Disdik akan mengumpulkan seluruh guru Bimbingan Konseling (BK) se-Kota Bandung untuk mendapatkan penguatan kapasitas. Selain itu, Disdik juga menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) dalam memberikan pelatihan serta pemetaan kompetensi guru BK agar lebih tajam membaca situasi psikologis siswa.

“Nanti para guru BK akan dibekali keilmuan oleh para psikolog, supaya bisa lebih fokus mendeteksi perubahan perilaku, pola pikir dan potensi risiko pada anak-anak. Usia SMP ini masa yang sangat rentan, tergantung bagaimana kita mengarahkan dan mengisi pola pikir mereka,” ujarnya.

Selain penguatan guru BK, Disdik juga menyiapkan tenaga psikolog untuk melakukan asesmen terhadap siswa yang terindikasi mengalami persoalan kesehatan mental. Hasil asesmen akan menjadi dasar penanganan lanjutan, mulai dari pendampingan intensif di sekolah hingga rujukan ke layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

“Kalau hasil asesmen masih memungkinkan anak tetap belajar di sekolah umum, maka guru BK akan mengawal secara khusus. Tapi jika kemampuan anak berada jauh di bawah rata-rata, tentu kami komunikasikan dengan orang tua dan mengoordinasikan kemungkinan rujukan ke sekolah berkebutuhan khusus seperti SLB,” ungkapnya.

Berdasarkan data Dapodik, ribuan peserta didik berkategori disabilitas di Kota Bandung menjadi perhatian khusus Disdik. Penanganan dilakukan tidak hanya di sekolah negeri, tetapi juga swasta dengan skema akomodasi sesuai regulasi yang berlaku.

Ke depan, kolaborasi dengan Dinkes akan diperkuat hingga tingkat kewilayahan melalui puskesmas. Anak-anak yang terindikasi mengalami persoalan kesehatan mental akan ditangani secara bertahap di sekolah lalu dirujuk ke layanan kesehatan jika diperlukan.

“Harapannya, sekolah bisa menjadi ruang aman bagi anak-anak. Bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga tempat bertumbuh secara mental dan emosional,” pungkasnya. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu