Campak Bukan Penyakit Ringan, Bisa Picu Komplikasi Berat

ILUSTRASI campak. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA –  Campak bukanlah penyakit sepele karena enyakit ini bisa menimbulkan komplikasi serius dan menurunkan daya tahan tubuh secara drastis.

“Campak itu bukanlah penyakit ringan-ringan saja. Komplikasi bisa berat dan juga daya tahan tubuh bisa sangat menurun sehingga membuka masuknya terjadinya penyakit lain,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K).  dalam seminar media yang digelar daring dari Jakarta, Sabtu (28/2).

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap campak hanya penyakit ringan pada anak-anak, sebatas demam dan ruam. Padahal, anggapan itu keliru.

Prof Anggraini menyoroti data kasus campak di Indonesia pada 2025, di mana tercatat 11.094 kasus terkonfirmasi dengan total suspek lebih dari 63.769.

Sementara itu, dalam lima pekan pertama tahun 2026, ada 379 kasus campak terkonfirmasi dengan suspek mencapai 5.329.

“Kasus campak sekarang, karena laboratoriumnya juga kewalahan di 2025, bayangkan hampir 50.000 spesimen masuk, reagennya, laboratoriumnya yang masih terbatas se-Indonesia, dengan positivity rate-nya 24,6. Di 2026 kok rendah karena memang walaupun suspeknya 5.000 lebih, tetapi laboratoriumnya overwhelmed,” tutur dia.

Ia menjelaskan, manusia adalah satu-satunya pejamu virus campak dan bisa menularkan lewat percikan udara dari batuk maupun bersin.

Campak dapat menyerang berbagai organ tubuh dan menimbulkan komplikasi, salah satunya infeksi paru atau pneumonia. Bahkan, sekitar 77 persen anak yang dirawat di rumah sakit akibat campak mengalami infeksi paru-paru.

“Kita mendapatkan pasien-pasien yang sampai masuk ke ventilasi mekanik. Bayangkan 86 persen dari campak yang meninggal itu disebabkan oleh pneumonia,” tutur anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI itu.

Selain pneumonia, campak juga bisa menimbulkan gangguan telinga seperti keluarnya cairan hingga risiko ketulian permanen.

Penderita campak juga rentan mengalami diare yang bisa berujung dehidrasi parah. Virus ini bahkan menurunkan kadar vitamin A dalam tubuh sehingga mata menjadi kering dan mudah terganggu.

Campak juga meningkatkan risiko immunological amnesia, yaitu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh kehilangan memori melawan penyakit sebelumnya. Akibatnya, anak menjadi lebih rentan sakit.

Pada anak-anak dengan gizi buruk, belum pernah imunisasi, atau memiliki komorbid, risiko komplikasi berat akibat campak semakin tinggi.

“Begitu masuk virus campak, maka diserang oleh berbagai daya tahan tubuh agar bisa meredam si virus. Berbagai potensial imun yang berperan juga ikut habis dan fungsinya berkurang. Akhirnya kemampuan daya tahan tubuh untuk training dia menghadapi penyakit menjadi turun,” imbuhnya.

Tak hanya itu, campak bisa menyerang otak dan memicu kejang yang bukan sekadar kejang demam biasa. Dampak jangka panjangnya bahkan bisa berupa Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan saraf progresif yang merusak otak dan muncul beberapa tahun setelah infeksi.

“Sangat bisa karena si virus campak-nya yang ke otak sehingga bisa menimbulkan kematian. SSPE itu bukan sekarang, tetapi next bahkan dikatakan bisa 23 tahun setelah terkena campak,” tutur Prof Anggraini. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu