BANDUNG – Fibrilasi atrium (AFib) adalah jenis gangguan irama jantung (aritmia) yang paling sering terjadi. Kondisi ini membuat detak jantung di ruang atas (atrium) menjadi tidak teratur, sehingga aliran darah ke ruang bawah (ventrikel) tidak berjalan normal.
Akibatnya, darah bisa menggumpal dan meningkatkan risiko stroke. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jutaan orang di dunia hidup dengan AFib, dan jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Menariknya, tidak semua orang dengan AFib merasakan gejala. Bahkan banyak kasus yang silent alias tanpa keluhan. Namun, beberapa tanda yang bisa muncul antara lain:
Karena gejalanya bisa samar, AFib sering baru terdeteksi setelah terjadi komplikasi serius seperti stroke.
AFib meningkatkan risiko stroke sekitar lima kali lipat dibanding orang tanpa kondisi ini. Stroke akibat AFib biasanya lebih berat, dengan risiko kematian dan kecacatan jangka panjang yang lebih tinggi. Selain stroke, AFib juga bisa memicu gagal jantung jika tidak ditangani dengan baik.
Cara mencegah
Pencegahan AFib berfokus pada menjaga kesehatan jantung dan mengurangi faktor risiko. Beberapa langkah yang direkomendasikan oleh CDC dan Mayo Clinic antara lain:
Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang sering tidak disadari, tapi punya dampak besar karena bisa memicu stroke berat. Mengenali gejalanya, memahami risikonya, dan melakukan pencegahan sejak dini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung. **