Bandung Sehat Berawal dari Rumah: Pola Makan Jadi Kunci

ILUSTRASI makanan dengan gizi seimbang. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Menjaga tubuh tetap sehat bukan hanya dilakukan saat sakit, melainkan dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Mulai dari pola makan, kualitas tidur, hingga aktivitas fisik yang teratur, semua menjadi fondasi penting. Kesadaran membangun gaya hidup sehat sejak lingkungan keluarga dinilai sebagai langkah utama untuk mencegah berbagai penyakit di masa depan.

Dalam acara Sonata Talkshow Program KASEP (Kunjungan Aksi Sehat Edukasi dan Pelayanan), masyarakat mendapat edukasi seputar kesehatan. Tema kali ini adalah “Bandung Sehat Dimulai dari Rumah: Makan Sehat, Hidup Lebih Kuat” yang disiarkan secara interaktif pada Rabu, 13 Mei 2026, bekerja sama dengan PR FM.

Talkshow menghadirkan Kepala Instalasi Gizi Santosa Hospital Bandung Kopo, Abdullah Firmansah, dr., SpGK, Mkes, yang menekankan pentingnya membangun pola makan sehat sejak dini, baik untuk anak maupun seluruh anggota keluarga.

Dalam penjelasannya, dr. Abdullah menyebutkan bahwa kebiasaan makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sejak kecil, termasuk suasana makan di rumah. Menurutnya, banyak anak sulit makan bukan hanya karena rasa makanan, tetapi juga faktor psikologis.

“Anak yang sejak kecil dipaksa makan atau dimarahi saat makan bisa mengalami trauma. Akibatnya, waktu makan justru menjadi sesuatu yang menegangkan bagi anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengenalan sayur dan makanan sehat sebaiknya dilakukan bertahap sesuai usia anak. Saat anak mulai tumbuh gigi dan bisa mengunyah, orang tua dapat mengenalkan sayuran bertekstur lembut seperti bayam dan wortel, sebelum beralih ke tekstur yang lebih keras.

“Anak sebenarnya bisa dilatih menyukai sayur sejak dini. Yang penting prosesnya dilakukan dengan sabar dan tanpa paksaan,” katanya.

Selain membahas pola makan anak, talkshow juga menyoroti maraknya konsumsi makanan instan dan ultra processed food yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama anak muda. dr. Abdullah menjelaskan bahwa makanan ultra proses adalah makanan yang telah banyak mengalami pengolahan hingga bentuk aslinya jauh berbeda dari bahan awal.

“Tubuh sebenarnya punya alarm alami. Kalau mulai muncul rasa enek, mual, atau kembung setelah mengonsumsi makanan tertentu, itu tanda tubuh mulai menolak,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar konsumsi makanan instan tetap dibatasi dan diimbangi dengan gizi seimbang dari sayur, buah, protein, serta air putih yang cukup.

“Kalau masih muda dan kondisi tubuh baik, konsumsi mie instan maksimal dua kali seminggu masih cukup aman. Tapi tetap harus diimbangi makanan bergizi lainnya,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, dr. Abdullah juga menyinggung pedoman pola makan sehat yang telah dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI melalui konsep “Isi Piringku” yang mudah diterapkan sehari-hari.

Ia menjelaskan, masyarakat bisa menggunakan ukuran piring makan umum sebagai acuan pembagian gizi seimbang untuk orang dewasa.

“Kalau sederhananya, satu piring makan dibagi menjadi empat bagian. Seperempat untuk karbohidrat, seperempat untuk protein, lalu sisanya untuk sayur dan buah,” terangnya.

Menurutnya, pola pembagian tersebut membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi harian secara lebih seimbang dan realistis diterapkan di rumah.

Namun, ia juga menekankan bahwa perubahan pola makan tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, masyarakat dianjurkan melakukan penyesuaian bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

“Kalau belum terbiasa langsung mengikuti porsi ideal, tidak masalah. Bisa mulai dengan mengurangi porsi sedikit demi sedikit dari kebiasaan sebelumnya,” ujarnya.

dr. Abdullah menegaskan, makanan bergizi seimbang tidak selalu identik dengan harga mahal. Menurutnya, masyarakat tetap bisa menyusun menu sehat dengan bahan sederhana asalkan memperhatikan komposisi gizi dan kualitas bahan makanan.

“Kita bisa membuat makanan sesuai panduan gizi seimbang dengan biaya yang minim. Contohnya telur sebagai sumber protein, ikan nila, ikan peda, dan bahan sederhana lainnya, bukan harus makanan dengan harga tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, hal terpenting adalah memastikan bahan makanan yang digunakan dalam kondisi segar, bersih, dan diolah dengan baik.

“Yang disarankan Kementerian Kesehatan itu bahan bakunya sebaiknya segar dan bersih. Hygiene atau kebersihan makanan sangat penting,” jelasnya.

Selain pola makan, dr. Abdullah juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur dan aktivitas fisik sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

“Tidur yang cukup itu penting. Ada ritme tubuh yang bekerja di jam tidur, terutama sekitar jam 10 malam sampai jam 1 pagi. Di waktu itu ada hormon dan zat penting yang diproduksi tubuh saat kita tidur. Kalau tidak tidur, produksinya terlewat dan lama-lama tubuh jadi mudah mengalami gangguan kesehatan,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk rutin melakukan aktivitas fisik sederhana seperti berjalan kaki setiap hari.

“Olahraga atau minimal jalan kaki itu penting. Sekarang juga banyak anjuran untuk berjalan enam ribu sampai sepuluh ribu langkah per hari sebagai bagian dari pola hidup sehat,” tambahnya.

Melalui talkshow ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa membangun kebiasaan hidup sehat dimulai dari rumah, melalui pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, aktivitas fisik rutin, serta suasana keluarga yang mendukung kesehatan bersama. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu