JAKARTA – Penyalahgunaan obat pereda nyeri tramadol ternyata bisa bikin masalah serius buat kesehatan. Mulai dari gelisah, susah tidur, nyeri otot, sampai tremor. Karena itu, pakar kesehatan mengingatkan masyarakat jangan sembarangan konsumsi obat ini tanpa pengawasan dokter.
Guru Besar dan Konsultan Gastroenterologi Hepatologi FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, FACG, menjelaskan tramadol biasanya dipakai dokter untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, sering dikombinasikan dengan parasetamol. Tapi obat ini tergolong keras karena berpotensi bikin ketergantungan.
“Tramadol termasuk obat keras karena sering disalahgunakan dan dapat menyebabkan adiksi atau ketergantungan. Jika sudah adiksi pasien akan meminta obat ini terus dan akan timbul sulit tidur, gelisah, nyeri otot hingga tremor,” kata Ari di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Rabu (11/3).
Efek yang bikin orang tergoda adalah rasa segar, lebih berenergi, mood naik, dan percaya diri meningkat. Tapi itu muncul karena tramadol mengurangi rasa nyeri di tubuh, sehingga sebagian orang pakai bukan untuk tujuan medis, melainkan cari sensasi.
Kalau dipakai terus tanpa resep dokter, risiko adiksi makin besar. Pasien yang sudah ketergantungan biasanya akan terus mencari obat ini dan mengalami gejala berat kalau berhenti. “Ini (tramadol) termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. Harus resep dokter. Jadi, tidak boleh dijual bebas,” tegas Ari.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga turun tangan. Selasa (10/3), BPOM menyatakan sedang menyelidiki dugaan penjualan tramadol secara bebas dan bakal menindak tegas penyalahgunaan obat tersebut.
Kasus ini makin ramai setelah sebuah video viral di media sosial. Dalam video itu, sejumlah toko di Jakarta Timur dilempari petasan oleh warga karena diduga menjual tramadol secara bebas. Media mainstream menambahkan, kasus penyalahgunaan tramadol memang beberapa kali mencuat di berbagai daerah, bahkan pernah jadi sorotan karena digunakan secara ilegal oleh kalangan remaja. **