JAKARTA – Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K)-FIHA, menegaskan bahwa serangan jantung dan kematian jantung mendadak adalah dua kondisi yang berbeda.
Dalam konferensi pers Pulse Day 2026 bertajuk “Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat” di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat (13/2), ia menjelaskan bahwa kematian jantung mendadak biasanya dipicu gangguan listrik jantung, sedangkan serangan jantung terjadi karena penyumbatan pembuluh darah.
“Kematian jantung mendadak biasanya karena gangguan listrik jantung yang kacau. Sementara serangan jantung karena sumbatan aliran darah di pembuluh koroner,” kata anggota Perhimpunan Aritmia Indonesia itu.
Sebagai gambaran, Ardian menyebut sejumlah kasus atlet profesional yang kolaps saat bertanding meski kondisi fisiknya prima dan rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.
Menurut dia, masalah tersebut sering berkaitan dengan gangguan irama jantung yang memicu henti jantung mendadak.
Ia mengungkapkan bahwa sekitar 26,3 persen kematian jantung berkaitan dengan gangguan irama jantung.
Pada sebagian pasien dengan penyakit jantung koroner, kematian juga bisa terjadi karena aritmia fatal yang muncul tiba-tiba akibat kerusakan otot jantung.
Dokter Ardian menambahkan bahwa gangguan irama jantung ada yang ringan dan ada yang bisa mengancam jiwa.
Dalam beberapa kasus, gangguan ini hanya menimbulkan keluhan jantung berdebar, tetapi ada pula yang memicu henti jantung dalam waktu singkat.
Menurutnya, tingkat keselamatan dalam kasus aritmia fatal sangat rendah. Pasien dengan gangguan irama jantung fatal peluang bertahan hidupnya kurang dari satu persen jika tidak segera ditangani.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami gejala gangguan irama jantung serta melakukan pemeriksaan lebih dini agar masalah bisa dideteksi lebih awal.
Data dari WHO menunjukkan penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, termasuk di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI juga menyoroti tren meningkatnya kasus henti jantung mendadak pada usia produktif, sehingga kampanye kesadaran seperti Pulse Day dianggap krusial.
Para ahli menekankan bahwa gaya hidup sehat, olahraga teratur, dan pemeriksaan rutin bisa membantu menurunkan risiko. **