Fibrilasi Atrium di Indonesia Banyak Serang Usia Produktif

ILUSTRASI jantung. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Gangguan irama jantung alias fibrilasi atrium ternyata nggak cuma menyerang orang tua. Di Indonesia, kasusnya justru banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 40–60 tahun. Kondisi ini bikin dampak sosial dan ekonomi jadi lebih luas, karena usia tersebut adalah masa aktif seseorang dalam karier dan keluarga.

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia FKUI sekaligus dewan pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau PERITMI, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menyebut temuan ini terlihat dari data penelitian pasien fibrilasi atrium di Indonesia.

“Di negara Barat, puncak usia fibrilasi atrium biasanya di atas 60 tahun. Di Indonesia justru banyak pada rentang 40 sampai 60 tahun. Ini kelompok usia aktif dengan tanggung jawab sosial dan ekonomi besar,” kata Profesor Yoga dalam paparan konferensi pers Pulse Day 2026 bertema Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jumat (13/2).

Ia menjelaskan, di usia produktif banyak orang sedang berada di puncak karier dan punya peran penting dalam keluarga maupun pekerjaan. Kalau sampai terkena stroke akibat fibrilasi atrium, dampaknya bisa meluas karena risiko kecacatan dan kematian lebih tinggi.

Menurut Profesor Yoga, stroke akibat fibrilasi atrium bisa muncul cepat dan biasanya lebih berat. Hal ini karena gumpalan darah berasal dari jantung lalu menyumbat pembuluh besar di otak.

Yoga menambahkan, sekitar separuh kasus fibrilasi atrium nggak menimbulkan gejala alias silent. Akibatnya, banyak yang baru sadar setelah terjadi komplikasi serius.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk rutin melakukan skrining denyut nadi mandiri lewat metode MENARI (Meraba Nadi Sendiri), terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun atau punya faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes.

Upaya deteksi dini lewat MENARI yang digagas Profesor Yoga ini jadi bagian dari kampanye Pulse Day 2026. Acara tersebut digelar bersama jejaring ahli aritmia regional dan nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung sekaligus mencegah stroke. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu