Calung, Musik Bambu dari Ladang ke Panggung Hiburan

Calung jingjing salah satu jenis calung yang populer. (Foto: Flickr)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Calung merupakan alat musik pukul dari bambu. Dulu, ia bukan bagian dari pertunjukan resmi, melainkan sekadar hiburan pribadi—semacam “teman ngobrol” bagi orang-orang di ladang atau sawah.

Nama calung sendiri unik, berasal dari kata ca = maca (baca) dan lung = linglung (bingung). Jadi, bisa dibilangcCalung adalah musik untuk hati yang sedang bingung atau galau.

Bayangkan suasana sunyi di sawah, seseorang menunggu padi, lalu memukul bilah bambu calung. Suaranya jadi pelipur lara, bikin hati lebih tenang.

Menurut Drs. Ubun Kubarsah R. dalam bukunya Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat, calung punya tiga jenis utama:

  • Calung Rantay Terdiri dari 10 bilah bambu yang dirangkai dengan tali.
  • Calung Gambang Mirip Rantay, tapi bilahnya ditaruh di atas ancak atau standard, seperti waditra Gambang.
  • Calung Jingjing Nah, ini yang paling populer. Bilah bambu digantung dan dipegang tangan kiri. Ada empat rumpung, yaitu Kingking (melodi), Panempas (variasi lagu),  Jongjrong (arkuh lagu), dan Gonggong (kempul dan goong).

Jenis calung yang paling sering dipakai dalam pertunjukan adalah Calung Jingjing. Bentuk ini lahir dari kreativitas Ekik Barkah, Parmas, dan tim dari Departemen Kesenian Unpad sekitar tahun 1960.

Sejak itu, calung bukan lagi sekadar alat musik bambu sederhana. Ia berubah jadi pertunjukan lengkap dengan lagu, vokal, humor, gerakan lucu, sampai lawakan yang bikin penonton ngakak.

Jadi, calung bukan cuma musik, tapi paket hiburan yang menyenangkan. Saat ini calung sudah mendunia, karena banyak dipertunjukkan di event-event internasional. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu