JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan di Jakarta, Selasa (3/3/2026), tercatat menguat tipis sebesar 7 poin atau 0,04 persen. Rupiah dibuka di level Rp16.861 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya Rp16.868 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menilai pergerakan rupiah masih akan fluktuatif di tengah kondisi global yang penuh dinamika.
“Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan cenderung fluktuatif dengan kecenderungan bergerak dalam rentang terbatas sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari dinamika global,” katanya di Jakarta seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (3/3).
Meski rupiah sempat menguat pada pembukaan, Taufan menegaskan penguatan tersebut masih terbatas. Menurutnya, hal itu lebih mencerminkan koreksi teknikal setelah sebelumnya rupiah mengalami pelemahan.
Secara keseluruhan, rupiah masih berada dalam fase konsolidasi. Volatilitasnya dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang cukup dominan.
Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Kondisi ini mendorong investor mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.
Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang masih ketat juga memperkuat posisi dolar AS di pasar internasional.
“Kombinasi faktor tersebut menjadi tekanan eksternal yang membatasi ruang penguatan rupiah, meskipun pada sesi pembukaan terlihat adanya technical rebound,” ujar dia.
Sementara dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup terjaga. Inflasi yang terkendali serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi bantalan menghadapi tekanan eksternal.
“Penguatan rupiah di tengah konflik Timur Tengah lebih disebabkan oleh faktor penyesuaian pasar (market adjustment) dan aksi ambil untung (profit taking) pada dolar AS setelah penguatan sebelumnya,” ungkap Taufan. **