BANDUNG – Nilai tukar rupiah di awal pekan ini langsung bikin heboh. Senin pagi, rupiah melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.981 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat bertahan di Rp16.980 per dolar AS.
Menurut analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan ini nggak lepas dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih terus naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat sudah tembus 103 dolar AS per barel. Angka ini bikin pasar makin panas.
Kenaikan harga minyak dipicu gangguan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman 20 juta barel minyak per hari. Sejak awal Maret 2026, jalur ini bermasalah sehingga pasokan terganggu dan harga minyak dunia pun melonjak.
Selain itu, rupiah juga tertekan oleh isu kebijakan Federal Reserve (The Fed). Ada kemungkinan The Fed tetap mempertahankan suku bunga di level 75 persen, bahkan membuka peluang untuk menaikkannya lagi tahun ini.
“Indeks dolar AS sendiri terpantau terus naik, dengan investor sekarang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dan peluang untuk menaikkan suku bunga tahun ini ketimbang memangkasnya. Namun, mendekati level psikologis Rp17 ribu, diperkirakan BI (Bank Indonesia) akan intervensi,” kata Lukman.
“Harga minyak yang tinggi dipastikan akan memicu inflasi, sehingga bank sentral akan merespons dengan kenaikan suku bunga,” ungkap dia.
Dengan kondisi ini, rupiah diperkirakan bakal bergerak di kisaran Rp16.950 sampai Rp17.050 per dolar AS. Jadi, siap-siap aja kalau angka Rp17 ribu benar-benar tersentuh. **