TANGERANG – Peringatan serius datang dari kalangan medis terkait ancaman virus Nipah. Dokter menekankan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah dampak fatal dari infeksi virus ini, apalagi potensi penularannya semakin besar seiring meningkatnya mobilitas lintas negara.
“Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal,” kata dokter spesialis penyakit dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, dalam keterangan persnya, Sabtu (21/2).
“Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” imbuhnya.
Virus Nipah (NiV) sendiri merupakan virus RNA dari kelompok Paramyxovirus yang pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama di peternakan babi.
Kelelawar pemakan buah diketahui sebagai reservoir alami virus ini, yang bisa menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi.
Infeksi virus Nipah dapat menyerang saluran pernapasan dan sistem saraf, dengan risiko menimbulkan gangguan berat hingga kematian. Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut.
Menurut dr. Timoteus, gejala awal infeksi Nipah sering menyerupai infeksi umum. Gejala biasanya muncul dalam lima sampai 14 hari setelah paparan, diawali dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas.
Dalam kondisi berat, pasien bisa mengalami batuk, sesak napas, gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak (ensefalitis).
Kalau sampai muncul penurunan kesadaran atau gangguan napas, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan agar mendapat penanganan medis yang tepat.
Dokter Timoteus juga mengingatkan bahwa penularan virus Nipah bisa terjadi di Indonesia, mengingat adanya habitat kelelawar buah serta mobilitas orang dari negara yang pernah melaporkan kasus Nipah seperti India dan Bangladesh.
Kesiapan layanan kesehatan, deteksi dini, dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah dampak luas penyakit ini di tengah mobilitas global yang semakin tinggi. **