Pemudik Keluhkan Fasilitas Terminal Leuwipanjang, Eskalator Tak Berfungsi dan Rokok di Mana-Mana

TERMINAL Lauwipanjang siap menjadi terminal utama. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Terminal Leuwipanjang Bandung kembali jadi bahan pembicaraan. Kali ini bukan soal ramainya penumpang, melainkan keluhan dari masyarakat terkait kenyamanan fasilitas. Eskalator yang mati dan asap rokok di area terminal jadi sorotan utama.

Dikutip dari ANTARA, Julian (30), pemudik asal Palembang, mengaku kerepotan saat harus turun di Gedung A. Eskalator yang mati membuatnya harus menenteng barang bawaan sambil menggandeng anak dan istri untuk menuju lantai dua agar bisa mengakses bus kota.

“Ya cukup kesulitan juga, kan dari sini mau ambil bus kota harus ke jajaran depan antrean bus lewat lantai dua biar tidak lewat tempat parkir bus. Harusnya sih momen begini berfungsi ya,” ujarnya, Kamis (26/3).

Selain masalah eskalator, asap rokok juga jadi keluhan penumpang. Banyak orang merokok sembarangan, tidak di area yang sudah ditentukan, meski bukan di dalam gedung tertutup.

Rizky (38), pemudik tujuan Bekasi, merasa kondisi ini mengurangi kenyamanan. Ia khawatir anak-anak yang dibawanya terpapar asap rokok.

“Sangat disayangkan ya, saya yang bawa anak juga jadi harus cepat-cepat ke bus biar keluarga tidak terlalu terpapar asap. Harapannya dipastikan ada area khusus merokok dan penegakan aturan sih biar nyaman dan aman. Karena kalau sekarang jadi kurang nyaman dan kotor juga karena puntungnya di mana saja,” ucap dia.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat, mengatakan kritik dari masyarakat akan dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan fasilitas ke depan.

Soal eskalator yang tidak berfungsi, Asep menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mematikannya karena tidak ada mekanik yang bertugas saat libur Lebaran.

“Jadi memang ini sengaja disiasati karena bila panas suka mati sendiri, sementara mekanik eskalator dari vendor tidak hadir kalau libur,” ujar Asep.

Ditanya soal kemungkinan merekrut mekanik sendiri, Asep menegaskan hal itu merupakan kewenangan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jawa Barat.

“Ini juga jadi evaluasi ya. Vendor itu sudah kontrak dengan kita untuk setahun. Untuk pengadaan mekanik itu kewenangan BPTD kita yang usulkan, karena anggaran bukan di kita,” ucapnya.

Terkait asap rokok, Asep menyebut terminal sebenarnya sudah menyiapkan area khusus di lantai dua dan di shelter kantor PO. Namun, masih banyak yang merokok di jalur bus atau area terbuka lainnya.

“Tapi memang belum terbatas hanya di tempat itu, jadi masih ada yang di jalur bus, jalur penumpang, di bawah pohon dan lainnya. Tapi tidak ada yang di area gedung, karena sudah tahu,” ucapnya.

Asep menambahkan, hal ini akan jadi bahan evaluasi. Pihaknya berencana menambah titik khusus untuk area merokok serta menyediakan tempat sampah puntung agar lingkungan lebih bersih.

“Memang harus ditentukan titik tertentu di luar ruangan untuk area merokok, yang memang jauh dari kerumunan, itu juga jadi acuan saya. Kemudian vendor kebersihan juga kami akan minta untuk memperhatikan soal sampah puntung rokok,” ucapnya menambahkan.

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu