Pantauan Bapanas, Menjelang Lebaran Mayoritas Harga Pangan Masih di Bawah HAP/HET

KETERSEDIAAN pangan di pasar. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan bahwa kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di sejumlah daerah tidak bisa langsung diartikan sebagai lonjakan harga yang melampaui harga acuan penjualan (HAP) maupun harga eceran tertinggi (HET) menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.

“Kenaikan IPH di sejumlah daerah tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai lonjakan harga yang melampaui HAP maupun HET,” kata Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Sarwo Edhy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Sarwo menjelaskan, IPH sejatinya hanya menunjukkan arah pergerakan harga, apakah naik atau turun dibandingkan periode sebelumnya. Indeks tersebut tidak serta-merta menandakan harga sudah melampaui batas yang ditetapkan pemerintah.

“Sehingga kenaikan indeks bisa terjadi meskipun harga komoditas masih berada di bawah HAP atau HET. Berdasarkan pemantauan di lapangan, masih terdapat sejumlah kabupaten/kota yang mencatatkan harga komoditas pangan berada di bawah HAP/HET,” ujarnya.

Ia menambahkan, IPH lebih menggambarkan tren pergerakan harga dari waktu ke waktu. “Dalam praktiknya, kenaikan IPH bisa saja terjadi karena harga yang sebelumnya rendah mengalami penyesuaian menuju harga yang lebih wajar,” jelas Sarwo.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu pertama Maret 2026 menunjukkan mayoritas kabupaten/kota masih mencatatkan harga pangan di bawah HAP/HET.

Contohnya pada cabai rawit, sebanyak 164 kabupaten/kota atau 31,90 persen mencatatkan harga di atas HAP. Namun, 350 kabupaten/kota atau 68,10 persen masih berada di bawah acuan.

Untuk cabai merah keriting, hanya 20 kabupaten/kota atau 3,89 persen yang berada di atas HAP, sedangkan 494 kabupaten/kota atau 96,11 persen masih di bawah HAP.

Situasi serupa terjadi pada bawang merah. Sebanyak 23 kabupaten/kota atau 4,47 persen mencatatkan harga di atas HAP, sementara 491 kabupaten/kota atau 95,53 persen masih di bawah acuan.

Pada bawang putih, tercatat 47 kabupaten/kota atau 9,14 persen berada di atas HAP, sedangkan 467 kabupaten/kota atau 90,86 persen masih di bawah acuan.

Komoditas protein hewani juga menunjukkan tren serupa. Daging ayam ras berada di atas HAP di 80 kabupaten/kota atau 15,56 persen, sementara 434 kabupaten/kota atau 84,44 persen masih di bawah HAP.

Untuk telur ayam ras, sebanyak 48 kabupaten/kota atau 9,33 persen mencatatkan harga di atas HAP, sedangkan 466 kabupaten/kota atau 90,67 persen masih di bawah acuan.

Pada daging sapi, hanya 38 kabupaten/kota atau 7,39 persen yang mencatatkan harga di atas HAP. Sisanya, 476 kabupaten/kota atau 92,61 persen masih di bawah acuan.

Komoditas lain seperti gula konsumsi tercatat berada di atas HAP/HET di 60 kabupaten/kota atau 11,67 persen, sementara 454 kabupaten/kota atau 88,33 persen masih di bawah acuan.

Untuk Minyakita, sebanyak 48 kabupaten/kota atau 9,34 persen berada di atas HET, sedangkan 466 kabupaten/kota atau 90,66 persen masih di bawah HET.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengingatkan pentingnya kewaspadaan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan menjelang Lebaran. Menurutnya, permintaan masyarakat biasanya meningkat tajam pada periode tersebut.

“Kami mengimbau Bapak/Ibu Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, minggu ini merupakan minggu krusial karena kebutuhan masyarakat cenderung meningkat mendekati Lebaran,” kata Ketut.

Ia menekankan perlunya keterlibatan aktif pemerintah daerah dengan menugaskan dinas terkait untuk memperkuat pemantauan di lapangan bersama Satgas Saber Pangan, terutama di pasar rakyat dan jalur distribusi utama.

“Mohon dipantau dan ditugaskan Kepala Dinas turun langsung ke lapangan dalam minggu-minggu ini, karena ini merupakan periode krusial terhadap potensi fluktuasi harga pangan,” tegas Ketut.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan dan harga pangan nasional tetap terjaga selama Ramadan hingga Idul Fitri.

Menurutnya, kondisi tersebut didukung oleh distribusi yang semakin kuat serta pengawasan yang diperketat di berbagai daerah. Bahkan, sejumlah komoditas strategis mulai menunjukkan tren harga yang stabil, bahkan cenderung menurun. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu