YOGYAKARTA – Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, isu ketersediaan beras jadi perhatian utama. Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, memastikan bahwa stok beras nasional dalam kondisi aman setelah melakukan inspeksi mendadak ke gudang Perum Bulog di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (12/2).
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, Firman mengingatkan pemerintah agar tetap waspada terhadap potensi anomali cuaca. Menurutnya, hujan lebat dan banjir bisa mengganggu distribusi pangan serta meningkatkan risiko gagal panen, terutama di periode menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Saat melakukan peninjauan di gudang Bulog wilayah DIY, Firman menyebut kapasitas penyimpanan terpantau terisi dengan baik dan pasokan relatif terjaga. Ia menegaskan bahwa hasil sidak tersebut sesuai dengan laporan pemerintah mengenai posisi cadangan beras nasional.
“Kami dari Komisi IV memberikan apresiasi kepada pemerintah. Sesuai laporan Menteri Pertanian dan Bulog, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 3,32 juta ton. Ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah dan menjadi modal penting menghadapi kebutuhan menjelang Ramadhan dan Lebaran,” kata Firman usai agenda kunjungan Komisi IV DPR RI di Gudang Bulog Trihajo, Wates, Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Wilayah DIY sendiri dikenal sebagai salah satu sentra pertanian yang menopang pasokan beras nasional, dengan dukungan dari daerah Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul.
Data resmi pemerintah mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog hingga akhir 2025 diperkirakan lebih dari 3 juta ton. Angka ini disebut sebagai yang tertinggi sejak Indonesia merdeka, bahkan tanpa adanya impor besar-besaran.
Secara keseluruhan, estimasi stok beras nasional mencapai sekitar 12,5 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat beberapa bulan ke depan. Meski begitu, Firman menekankan pentingnya mitigasi risiko cuaca ekstrem agar pasokan tetap aman.
“Yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan anomali cuaca menjelang Ramadhan. Kalau terjadi banjir dan akses jalan terganggu, distribusi akan terhambat dan itu bisa mempengaruhi harga di lapangan,” ujarnya.
Selain distribusi, ia juga menyoroti dampak banjir terhadap produksi. Menurut pengamatannya, banjir di wilayah pertanian berisiko menyebabkan gagal panen dan menurunkan produksi gabah, sehingga bisa menyulitkan Bulog dalam penyerapan pasca-Lebaran.
Dari hasil sidak di DIY, Firman menilai tidak ada persoalan krusial terkait ketersediaan stok beras. Namun, ia menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap faktor cuaca dan distribusi akan tetap menjadi perhatian Komisi IV DPR RI dalam pembahasan kebijakan pangan nasional ke depan.
Tujuannya jelas: memastikan pasokan beras tetap aman dan stabil hingga Idul Fitri, sehingga masyarakat bisa menjalani bulan Ramadhan dan Lebaran dengan tenang. **