BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan memperkuat program promotif dan preventif. Salah satu langkah yang kini digencarkan adalah mendorong warga untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Bandung, dr. Deborah Johana Rattu, menegaskan bahwa deteksi dini melalui program CKG sangat penting. Pemeriksaan sejak awal dapat mencegah penyakit berkembang lebih serius sekaligus menekan biaya pengobatan yang biasanya lebih besar.
“Banyak kasus baru diketahui saat sudah muncul gejala, seperti gangguan penglihatan akibat gula darah tinggi atau tekanan darah yang tidak terkontrol. Padahal, hal-hal tersebut bisa dimitigasi sejak awal,” ujarnya dalam talkshow yang disiarkan Radio Sonata, Kamis (9/4/2026).
Deborah menjelaskan, Pemkot Bandung kini berinvestasi pada layanan promotif dan preventif, termasuk penyediaan alat pemeriksaan kesehatan. Langkah ini diharapkan mampu menekan beban biaya pengobatan di masa depan yang cenderung tinggi.
Program CKG terbuka untuk semua warga tanpa batasan, baik peserta BPJS maupun bukan. Layanan ini bisa diakses di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya yang tersedia di Kota Bandung.
Selain itu, Dinkes juga menghadirkan layanan jemput bola ke komunitas. Pemeriksaan di komunitas biasanya bersifat dasar, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, dan tekanan darah. Untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti EKG, USG, atau deteksi kanker, masyarakat tetap diarahkan ke fasilitas kesehatan.
“Dari pemeriksaan sederhana saja, kita sudah bisa memprediksi risiko kesehatan hingga 10 tahun ke depan. Ini berbasis data dan penelitian,” jelasnya.
Pemkot Bandung menargetkan minimal 46 persen dari total sekitar 2,5 juta penduduk dapat memanfaatkan layanan ini. Target tersebut dinilai penting untuk mendukung masyarakat yang sehat dan produktif.
Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, dr. Dadan Mulyana Kosasih, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap penyakit campak yang masih berpotensi meningkat.
Ia menyebutkan, sekitar 70 persen kasus campak terjadi pada individu yang belum mendapatkan imunisasi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor meningkatnya kembali kasus campak dalam beberapa waktu terakhir.
“Campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga bisa terjadi pada remaja hingga dewasa, terutama jika riwayat imunisasinya tidak lengkap,” ungkapnya.
Menurut Dadan, pencatatan imunisasi kini lebih baik melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta sistem digital seperti SatuSehat. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah melacak riwayat vaksinasi.
Ia menegaskan, imunisasi campak harus dilakukan lengkap dalam tiga tahap, yakni usia 9 bulan, 18 bulan, dan penguat pada usia sekolah sekitar 7 tahun. Namun, masih banyak masyarakat yang menganggap imunisasi selesai di usia 9 bulan sehingga tahap lanjutan sering terlewat.
Data Dinkes Kota Bandung menunjukkan cakupan imunisasi usia 9 bulan berada di kisaran 80–85 persen pada 2025. Sementara itu, imunisasi usia 18 bulan masih sekitar 65 persen, jauh di bawah target 95 persen.
“Padahal, imunisasi lanjutan di usia 18 bulan sangat penting untuk memberikan perlindungan yang optimal,” katanya.
Melalui dua program utama, yakni Cek Kesehatan Gratis dan penguatan imunisasi, Pemkot Bandung berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan semakin meningkat.
“Kesehatan adalah fondasi utama pembangunan. Dengan masyarakat yang sehat, produktivitas meningkat dan Kota Bandung dapat terus bergerak menuju kota yang unggul dan berdaya saing,” pungkasnya. **