JAKARTA – Mengonsumsi mi instan ternyata bisa dibuat lebih sehat jika dimodifikasi dengan cara yang tepat. Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menyarankan agar mi instan kuah tidak hanya dimasak dengan bumbu bawaan, tetapi ditambah bumbu dapur, lauk berprotein, dan sayuran segar.
“Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” kata Diah seperti dikutip dari ANTARA, Senin (2/2).
Ia mencontohkan, jika memasak untuk lima orang, bumbu bubuk cukup digunakan tiga bungkus lalu ditambah tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabai segar. Dengan begitu, rasa tetap nikmat tetapi kandungan natrium lebih terkendali.
Diah menyarankan lauk tambahan berupa telur, ayam suwir, atau ikan agar kebutuhan protein tercukupi. Sayuran seperti sawi, ketimun, kangkung, dan tomat juga bisa ditambahkan sebagai sumber kalium dan serat untuk menyeimbangkan natrium.
Ia mengingatkan agar tidak menambahkan saus atau kecap berlebihan, serta menghindari pelengkap tinggi natrium seperti pilus atau keripik asin. Kuah mi sebaiknya tidak dihabiskan agar asupan natrium tetap terkontrol.
Selain itu, Diah menyarankan agar mi instan tidak dimasukkan ke daftar belanja bulanan supaya tidak tergoda mengonsumsinya terlalu sering. Mi instan sebaiknya dianggap sebagai makanan rekreasi, bukan menu harian. Hal ini juga berlaku untuk mi instan yang mengklaim lebih sehat, seperti mi panggang atau non-MSG.
Menurutnya, klaim tersebut harus dicek melalui label gizi. “Jika kita bandingkan dalam satu sajian energinya memang dapat berbeda 50 persennya dikarenakan teknik pemanggangan minya sehingga kandungan lemaknya pun signifikan lebih sedikit turun 40 persen,” jelasnya.
Namun, kandungan natrium pada mi diet atau mi panggang tidak selalu lebih rendah. Bahkan, ada varian rasa yang bisa mencapai lebih dari 1.500 miligram natrium. Karena itu, Diah menegaskan mi instan dengan klaim sehat tetap tidak boleh dijadikan menu harian, dan frekuensi konsumsinya harus dibatasi. **