Sampah di Kota Bandung Tembus 1.511 Ton Per Hari, Warga Diimbau Pilah dari Rumah Agar Bebas Penyakit

KONDISI TPA Sarimukti yang kapasitasnya semakin berkurang. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Ancaman penyakit mematikan hingga pencemaran lingkungan membayangi warga Kota Bandung jika kebiasaan memilah sampah dari rumah masih diabaikan.

Langkah kecil dari lingkungan keluarga ini memegang peranan sangat vital untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus menyelamatkan wajah Kota Bandung dari darurat sampah.

Isu krusial tersebut mengemuka dalam program Sonata Talkshow Radio Sonata pada Rabu, 30 September 2026. Diskusi ini menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp. PD., KHOM., MMRS., FINASIM, serta Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Dadang Setiawan, S.IP., M.Si.

Dalam pemaparannya, Agung menegaskan bahwa urusan sampah tak sekadar memperburuk pemandangan atau merusak estetika lingkungan kota semata. Lebih dari itu, penanganan sampah yang buruk secara langsung menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga.

“Sampah ini bukan hanya persoalan estetika. Dari perspektif kesehatan, sampah yang tidak dikelola dengan baik ini bisa menjadi media penularan penyakit, tempat berkembang biaknya faktor penyakit, dan menjadi perantara penyakit,” ujar Agung.

Ia menguraikan, lingkungan yang tercemar sampah menjadi sarang paling ideal bagi vektor bahaya seperti tikus dan nyamuk untuk berkembang pesat. Tak hanya itu, akumulasi sampah juga berisiko merusak kualitas air, mengkontaminasi tanah, hingga memicu polusi udara fatal akibat aksi pembakaran liar.

Agung memberikan contoh nyata, tumpukan sampah organik yang membusuk akan mengundang lalat dan tikus secara masif. Sementara itu, genangan air di sekitar tumpukan sampah menjadi tempat bertelurnya nyamuk, sehingga pengolahan sampah yang tepat adalah bagian mutlak dari pencegahan penyakit.

“Masalah itu berpindah ke lingkungan, air, udara, ke tanah. Dan pada akhirnya ini bisa kembali ke kita dalam bentuk masalah kesehatan,” ungkap Agung.

Dari kacamata medis, dampak lingkungan tak terkelola memicu rentetan penyakit merugikan. Salah satunya adalah infeksi saluran pencernaan yang mengintai saat tumpukan sampah mencemari sumber air, makanan, hingga konsumsi harian warga.

Ancaman lain datang dari penyakit yang dibawa oleh vektor atau binatang perantara. Salah satu contoh paling nyata adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Kondisi lingkungan kotor yang disukai tikus juga mendongkrak risiko penularan leptospirosis. Bakteri berbahaya yang dibawa tikus ini pada tingkat keparahan tinggi dapat memicu kerusakan organ vital, termasuk gagal ginjal.

Selain infeksi, kebiasaan buruk masyarakat membakar sampah secara terbuka juga tak boleh luput dari perhatian.

Agung mengingatkan, asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah mengandung berbagai zat iritan dan toksik beracun. Asap tersebut berpotensi besar merusak sistem pernapasan, serta memicu gangguan kesehatan pada mata dan kulit.

Atas dasar itulah, Agung menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai benteng utama pencegahan penyakit. Menurutnya, hidup sehat tak perlu selalu menunggu obat atau berkonsultasi ke dokter, melainkan bisa dimulai dari tindakan Preventif harian.

“Padahal ada bentuk pencegahan yang jauh lebih sederhana, yaitu buang sampah pada tempatnya, pilah sampah, jangan membakar sampah sembarangan, dan jangan biarkan air tergenang,” jelasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris DLH Kota Bandung, Dadang Setiawan menegaskan bahwa pengelolaan sampah mendatangkan manfaat ganda, tak cuma bagi estetika kota tetapi juga keselamatan para petugas di lapangan.

“Banyak kita melihat tumpukan-tumpukan sampah ini selalu menimbulkan bau, lalat, tikus, bahkan ular juga ada. Ditambah juga mungkin saja kebakaran, asap dan sebagainya. Ini berpotensi kepada penyebaran penyakit, baik keluarga sekitar maupun petugas itu sendiri,” kata Dadang.

Dadang menyoroti bagaimana pencemaran akibat tumpukan sampah memburukkan kualitas tanah, air, dan udara. Karena itu, pihak DLH terus mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk mulai memilah sampah langsung dari sumbernya agar proses pengolahan berlanjut lebih efisien.

“Pokoknya kami mendorong warga masyarakat untuk melakukan pemilahan saja, minimal. Karena ini memudahkan di dalam proses pengolahan nantinya. Yang organik bisa dilakukan kompos, kalau yang anorganik bisa dilakukan daur ulang atau dimanfaatkan,” jelasnya.

Pemilahan dari rumah tangga dinilai sebagai fondasi utama agar penanganan sampah bisa tepat sasaran. Sampah organik diproses menjadi pupuk kompos berkualitas, sedangkan jenis anorganik difungsikan kembali melalui proses daur ulang.

Di sisi lain, Dadang menggarisbawahi bahwa penanganan masalah persampahan di Kota Bandung tak bisa melulu mengandalkan DLH semata. Sinergi masif wajib terjalin antara Pemkot Bandung, perangkat wilayah, petugas, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Makin krusialnya penanganan sampah ini diperkuat oleh data timbulan sampah Kota Bandung yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar 1.511 ton per hari berdasarkan estimasi jumlah populasi. Angka ini jauh melampaui kuota pengiriman ke TPA Sarimukti yang hanya sekitar 800 ton per hari, sementara kapasitas pengolahan lokal Kota Bandung baru menyentuh angka 250 hingga 300 ton per hari.

“Ini harus kita selesaikan bersama. Apalagi ada aktivitas wisata dan juga penduduk komuter yang datang bekerja atau beraktivitas di Kota Bandung. Karena itu, persoalan sampah ini memang membutuhkan peran semua pihak,” tutur Dadang.

Kolaborasi ini mencakup perlindungan nyata terhadap keselamatan dan kesehatan petugas kebersihan di lapangan yang bersentuhan langsung dengan limbah harian warga.

Dadang menilai idealnya setiap petugas dibekali Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai serta memperoleh fasilitas pemeriksaan kesehatan berkala di layanan kesehatan.

Ia juga mengimbau warga untuk lebih berhati-hati dan tidak asal mencampur limbah berbahaya saat membuang sampah. Benda-benda tajam seperti tusuk sate kerap tercampur bebas hingga melukai petugas kebersihan saat pengangkutan maupun pengolahan.

Warga diajak untuk membuang sampah pada tempatnya, menghindari buang sampah ke sungai, serta aktif melaporkan tumpukan sampah yang belum terangkut demi merespons cepat penanganan kebersihan kota.

Melalui perbincangan di Sonata Talkshow, Radio Sonata mengajak seluruh warga Kota Bandung melihat pemilahan sampah bukan sekadar kewajiban, melainkan momentum membangun pola hidup lebih sehat dan kota yang nyaman.

Gerakan ini harus berakar kuat dari kebiasaan konsisten di tingkat keluarga. Sinergi antara warga, pemerintah, dan petugas kebersihan akan menjadi kunci utama terciptanya perubahan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Kota Bandung.  **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu