JAKARTA – Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin menyoroti pentingnya optimalisasi fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Menurutnya, tingginya volume sampah di ibu kota menuntut solusi jangka panjang dengan sistem pengelolaan yang lebih modern.
“Jakarta memproduksi sekitar 8.700 ton sampah setiap hari. Jika tidak disiapkan solusi permanen, maka risiko seperti longsor di TPST Bantargebang bisa terus berulang,” kata Khoirudin di Jakarta, Kamis (12/3).
Ia menekankan, RDF Rorotan harus dimaksimalkan untuk mengurangi beban pengelolaan sampah. Apalagi, beberapa waktu lalu terjadi longsor di TPST Bantargebang yang menelan korban jiwa.
Karena itu, pengembangan RDF dipandang sebagai langkah strategis agar Jakarta tidak terus bergantung pada TPST Bantargebang yang kini sudah kelebihan kapasitas.
Khoirudin menegaskan, besarnya timbunan sampah di Jakarta menuntut adanya sistem pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Pemerintah telah menganggarkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan fasilitas RDF agar pengolahan sampah Jakarta berjalan maksimal, aman bagi lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Saat ini RDF Rorotan masih beroperasi terbatas dengan kapasitas 700 ton per hari. Targetnya, fasilitas ini bisa mengolah hingga 2.500 ton per hari setelah seluruh sistem pendukung siap.
“Fasilitas RDF seperti di Rorotan ini adalah bagian dari solusi jangka panjang. Jika dibangun di beberapa titik, kita bisa mengurangi beban sampah ke Bantargebang hingga sekitar 30 persen,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke RDF Rorotan, Khoirudin menerima penjelasan dari pengelola mengenai tantangan operasional, mulai dari pengangkutan sampah hingga pengendalian dampak lingkungan seperti bau dan emisi.
“Masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Saya mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai memilah sampah dari rumah, karena pengelolaan yang baik di hulu akan menentukan keberhasilan sistem pengolahan sampah di hilir,” katanya. **