BANDUNG – Memasuki musim kemarau, masyarakat Kota Bandung diminta lebih waspada terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi. Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi menegaskan, meski wilayah Bandung relatif aman dari kebakaran hutan, ancaman kebakaran di permukiman serta kekeringan tetap perlu diantisipasi.
Menurut Didi, di sejumlah daerah lain di Indonesia, musim kemarau kerap menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Namun kondisi tersebut tidak terlalu relevan di Bandung karena kota ini tidak memiliki kawasan hutan luas yang berisiko terbakar dalam skala besar.
“Kalau berbicara potensi bencana di musim kemarau di beberapa daerah seperti Kalimantan biasanya terjadi kebakaran hutan. Namun di Kota Bandung relatif tidak ada karena kita tidak memiliki kawasan hutan yang luas,” kata Didi saat dikonfirmasi, Senin (16/3).
Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi di kawasan permukiman tidak dikategorikan sebagai bencana dalam aturan kebencanaan. Meski begitu, masyarakat tetap diminta berhati-hati agar tidak terjadi kebakaran di lingkungan rumah.
Didi menekankan, kebakaran di permukiman biasanya dipicu oleh kelalaian penggunaan peralatan rumah tangga. Karena itu, warga diimbau lebih teliti dan tidak abai terhadap potensi bahaya di rumah masing-masing.
Selain kebakaran, ancaman lain yang perlu diperhatikan adalah kekeringan. Jika musim kemarau berlangsung lama, ketersediaan air bersih bisa terganggu sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Untuk itu, Didi mengingatkan agar masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sederhana, salah satunya dengan menghemat penggunaan air. “Yang paling penting adalah masyarakat bisa menghemat penggunaan air. Jangan sampai penggunaan air berlebihan apalagi jika musim kemarau berlangsung cukup lama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kedisiplinan warga dalam mencegah kebakaran rumah. Instalasi listrik yang tidak aman serta penggunaan colokan listrik berlebihan sering menjadi penyebab kebakaran.
Selain itu, aktivitas memasak juga perlu diperhatikan. Banyak kasus kebakaran terjadi karena kelalaian, misalnya meninggalkan dapur saat kompor masih menyala.
“Sering kali ketika sedang memasak, orang justru meninggalkan dapur, misalnya karena menonton televisi atau bermain ponsel. Hal-hal seperti ini yang sering memicu kebakaran,” katanya.
Didi menambahkan, musim kemarau dalam kajian kebencanaan termasuk kategori hidrometeorologi kering. Berbeda dengan musim hujan yang disebut hidrometeorologi basah. Pada kondisi tertentu, vegetasi kering seperti ilalang bisa memicu kebakaran jika terkena percikan api.
Meski risiko tersebut kecil di Bandung, Didi tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Wilayah yang masih memiliki area hijau atau vegetasi kering di bagian atas kota tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Tapi tetap perlu di antisipasi, apalagi wilayah yang masih memiliki area hijau atau vegetasi kering di bagian atas kota agar tetap meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau,” tuturnya. **