JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, tercatat melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.848 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.829 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi karena investor memilih sikap hati-hati menjelang pidato Presiden AS Donald Trump.
“Para pelaku pasar memantau dengan cermat potensi perkembangan kebijakan perdagangan AS dan tindakan lebih lanjut di Timur Tengah,” ujarnya di Jakarta, Rabu (25/2), seperti dikutip dari ANTARA.
Mengutip Xinhua, Trump dijadwalkan menyampaikan pidato Kenegaraan (State of the Union/SOTU) pada Selasa malam waktu AS. Pidato ini diperkirakan akan menyoroti pencapaiannya sejak kembali menjabat untuk kedua kalinya, meski approval rating tengah menurun.
Pidato tersebut menjadi SOTU pertama Trump setelah kembali menjabat sebagai presiden. Pada Maret 2025, Trump memang sudah berpidato di hadapan sidang gabungan Kongres, namun saat itu belum dianggap sebagai pidato kenegaraan karena dilakukan tak lama setelah ia dilantik.
Pidato SOTU kali ini berlangsung di tengah penurunan approval rating dalam beberapa bulan terakhir. Survei terbaru menunjukkan hanya 32 persen warga Amerika menilai Trump memiliki prioritas yang tepat, sementara 68 persen lainnya menilai ia belum cukup fokus pada masalah utama negara.
“Kehati-hatian yang meningkat mendukung permintaan terhadap dolar AS, yang menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, termasuk rupiah,” ungkap Josua.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp16.775–Rp16.900 per dolar AS. **