Pendekatan Bijak Orang Tua dalam Membatasi Penggunaan Gawai Anak SMA

REMAJA sedang menggunakan gawai. (Foto: Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

JAKARTA – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menegaskan, orang tua perlu menerapkan aturan pembatasan penggunaan gawai bagi remaja SMA dengan cara yang tepat.

Ia menjelaskan siapa yang terlibat (orang tua dan remaja), apa yang dilakukan (pembatasan gawai), kapan dan di mana (remaja SMA di rumah, aturan berlaku pada waktu tertentu), mengapa (agar remaja tetap terarah dan tidak kecanduan), serta bagaimana (melalui kesepakatan berbasis fungsi dan waktu, bukan hukuman).

Menurut Kasandra, Selasa (3/2), pembatasan yang efektif dapat dilakukan dengan memberi kebebasan remaja menggunakan gawai untuk tugas sekolah dan komunikasi sosial, tetapi hanya pada jam tertentu. Selain itu, orang tua bisa menetapkan aturan waktu, misalnya tidak menggunakan ponsel saat makan, belajar, dan menjelang tidur.

“Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan,” kata Kasandra seperti dikutip dari ANTARA.

Ia menambahkan, orang tua dan anak dapat membuat kesepakatan mengenai batas waktu layar, misalnya maksimal dua hingga tiga jam untuk hiburan digital setiap hari.

Dalam penerapan aturan tersebut, Kasandra menekankan pentingnya transparansi. Orang tua perlu menjelaskan alasan di balik aturan, bukan sekadar berkata “pokoknya”.

Selain itu, orang tua harus menjadi teladan dengan mempraktikkan kesepakatan yang dibuat, sebab remaja sangat peka terhadap ketidakkonsistenan.

Kasandra menjelaskan bahwa meski sudah memasuki usia SMA, remaja tetap membutuhkan pembatasan penggunaan ponsel. Bedanya, aturan harus disesuaikan dengan fase perkembangan mereka.

Pada masa ini, remaja sedang mencari identitas dan kemandirian, tetapi kemampuan mengendalikan impuls dan mengambil keputusan belum matang.

Hal tersebut membuat remaja rentan terdistraksi, menggunakan gawai secara berlebihan, dan mengalami ketergantungan digital. Kondisi ini terjadi karena bagian otak prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan diri dan menimbang risiko masih berkembang hingga usia awal 20-an.

Oleh karena itu, pendampingan orang tua tetap diperlukan. “Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orang tua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak,” ujar Kasandra. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu