ZHENGZHOU – Produsen mobil listrik asal China, BYD, kembali membuat gebrakan dengan teknologi pengisian daya terbaru. Perusahaan ini memperkenalkan perangkat bernama Megawatt Flash Charger yang diklaim mampu menyalurkan daya hingga 1 megawatt (1.000 kW). Dengan teknologi ini, proses isi ulang baterai mobil listrik disebut nyaris secepat mengisi bahan bakar bensin.
Demonstrasi langsung dilakukan di fasilitas sirkuit segala medan milik BYD di Zhengzhou, China, Rabu (14/1) pekan lalu. Sejumlah jurnalis dari Indonesia turut menyaksikan bagaimana pengisian baterai dari 20 persen ke 80 persen bisa selesai dalam waktu kurang dari lima menit.
Kehadiran teknologi ini sekaligus menempatkan BYD di atas pesaingnya. Sebelumnya, Tesla memegang rekor dengan charger berdaya 500 kW, sementara Xpeng mencapai 800 kW. Kini, BYD melampaui keduanya dengan kemampuan hingga 1.360 kW, meski masih dibatasi sistem manajemen baterai kendaraan.
Capaian tersebut jauh melampaui teknologi pengisian cepat yang umum digunakan saat ini. Sebagai gambaran, charger DC berdaya 200 kW biasanya memerlukan waktu sekitar 15- 30 menit, sementara charger yang dipasang di rumah berdaya 7 kW bisa memakan waktu 7–9 jam.
Dalam kondisi baterai berada di level 20 persen, pengisian hingga 80 persen bisa dicapai kurang dari lima menit.
Di Indonesia, SPKLU dengan daya terbesar masih 200 kW. Namun, keterbatasan suplai listrik membuat pemanfaatannya belum maksimal.
Meski demikian, tidak semua mobil BYD dapat langsung menikmati teknologi ini. Saat ini, hanya dua model yang telah mendukung pengisian super cepat tersebut, yakni Han L untuk segmen sedan dan Tang L di kelas SUV.
Ke depan, BYD berencana memperluas adopsi teknologi ini melalui kendaraan yang dibangun di atas Super-e Platform, termasuk pada merek premium BYD, Denza.
Selain kesiapan kendaraan, faktor infrastruktur kelistrikan juga menjadi perhatian utama. Stabilitas pasokan listrik menjadi syarat mutlak agar pengisian daya ekstrem ini bisa berjalan optimal. Untuk itu, BYD tengah mempercepat pembangunan jaringan Megawatt Flash Charger di berbagai wilayah China.
Sepanjang tahun lalu, perusahaan tersebut telah memasang sekitar 4.000 unit, mayoritas berlokasi di dealer dan showroom resmi BYD.
Dengan hadirnya teknologi pengisian super cepat ini, BYD optimistis hambatan adopsi mobil listrik akan semakin berkurang dan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik bakal terus meningkat.
Sementara itu, infrastruktur pengisian mobil listrik di Indonesia memang berkembang pesat, tetapi masih jauh tertinggal dibanding teknologi ultra cepat BYD. Hingga pertengahan 2025, PLN baru membangun sekitar 4.100 SPKLU dari target 5.000 unit, dengan daya terbesar rata-rata 200 kW, jauh di bawah kemampuan Megawatt Flash Charger BYD yang mencapai 1.000 kW.
Teknologi pengisian ultra cepat BYD jelas melampaui kemampuan SPKLU di Indonesia saat ini. Indonesia masih fokus memperluas jumlah SPKLU dengan daya 200 kW, sementara BYD sudah menyiapkan pengisian 1 MW. Artinya, adopsi teknologi BYD di Indonesia akan membutuhkan waktu, terutama untuk kesiapan jaringan listrik nasional. **