BANDUNG – Imlek selalu jadi momen yang bikin meja makan penuh warna dan cerita. Bukan sekadar kumpul keluarga, tapi juga pesta kuliner yang sarat simbol dan doa.
Dari salad yu sheng yang meriah, ikan kukus utuh, mie panjang umur, sampai klappertaart manis, setiap hidangan punya makna mendalam yang bikin perayaan makin istimewa.
Yu sheng, misalnya, bukan hanya salad segar. Tradisi Lo Hei membuat hidangan ini diangkat tinggi-tinggi dengan sumpit, simbol rezeki dan keberuntungan yang terus meningkat. Ikan mentah di dalamnya melambangkan kelimpahan, pomelo jadi simbol hoki, sayuran hijau untuk kesehatan, kacang tumbuk untuk kemakmuran rumah tangga, dan biji wijen sebagai doa agar usaha terus berkembang.
Garoupa kukus khas Cirebon juga jadi sajian yang wajib hadir. Kerapu putih disajikan utuh dengan jahe, daun bawang, dan saus kecap berpadu minyak wijen panas.
Dalam tradisi Tionghoa, ikan tidak boleh dipotong-potong karena melambangkan keutuhan rezeki. Filosofi ikan yang terus berenang melawan arus juga dimaknai sebagai ketangguhan dan semangat pantang mundur.
Mie panjang umur jadi ikon lain yang tak kalah penting. Mi utuh sepanjang dua meter ini melambangkan harapan panjang usia dan kelancaran rezeki. Saat menyantapnya, mi tidak boleh digigit hingga putus, melainkan harus diseruput utuh dari ujung ke pangkal agar tidak membawa nasib buruk.
Sebagai penutup, ada klappertaart khas Manado–Belanda. Lembutnya kelapa muda berpadu dengan kismis, almond panggang, dan kayu manis, disajikan bersama es puter gula aren. William Wongso menambahkan,
Tradisi kuliner ini bukan hanya soal rasa, tapi juga sejarah. Di House of Tugu, bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Jakarta, pengunjung bisa menikmati hidangan Imlek sekaligus menelusuri jejak budaya.
Ornamen naga di langit-langit yang dibuat tahun 1961 untuk Cap Go Meh, hingga dokumentasi keluarga Raden Ajeng Kasinem—keponakan pelukis Raden Saleh sekaligus istri Oei Tiong Ham, sang “Raja Gula” asal Semarang—jadi bagian dari kisah panjang yang melekat.
Saat ini perayaan Imlek di Indonesia kini semakin inklusif. Banyak restoran dan hotel menghadirkan menu spesial Imlek dengan sentuhan lokal, seperti perpaduan kuliner Jawa, Betawi, dan Tionghoa. Di Jakarta, kawasan Glodok jadi pusat kuliner Imlek dengan ragam makanan tradisional yang tetap diminati lintas generasi.
Selain itu, Imlek juga jadi momentum ekonomi kreatif. UMKM kuliner mendapat lonjakan permintaan untuk kue keranjang, hampers, hingga menu perayaan keluarga. Tren hampers Imlek kini semakin kreatif, memadukan makanan tradisional dengan produk modern.
Tak kalah menarik, Imlek juga jadi ajang wisata budaya. Di Semarang, festival barongsai dan bazar kuliner menarik ribuan pengunjung, sementara di Medan, suasana Pecinan Kesawan jadi pusat perayaan dengan perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Batak.
Semua ini menunjukkan bahwa Imlek di Indonesia bukan hanya tradisi, tapi juga simbol keberagaman dan kebersamaan.
Dengan segala hidangan, atraksi, dan makna, Imlek di Indonesia terasa seperti pesta budaya yang merayakan masa lalu sekaligus menyongsong masa depan dengan penuh harapan. **