BANDUNG – Para pedagang di sekitar Jembatan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, mulai bersiap menghadapi arus mudik Lebaran. Meski begitu, hingga H-7 suasana jual beli masih belum ramai.
Dikutip dari ANTARA, salah satu pedagang minuman cincau, Mia atau akrab disapa Teh Mia, mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut sejak tahun 2010.
“Dulu awal jualan cincau saja. Tahun 2010 sampai 2011 sehari bisa dapat sampai Rp2 juta kalau lagi ramai,” kata Mia di kedainya, Sabtu (14/3).
Ia bercerita, kondisi kawasan Rajamandala berubah setelah Tol Cipularang beroperasi. Banyak kendaraan kini lebih memilih jalur tol ketimbang melewati jalur jembatan.
Akibatnya, pendapatan yang ia terima dari berjualan di sekitar jembatan turun drastis.
“Sekarang paling sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu sehari. Makanya jualannya tidak cuma cincau, tapi macam-macam,” katanya.
Pedagang lain bernama Reni juga merasakan hal serupa. Menurutnya, arus kendaraan yang melintas hingga H-7 Lebaran belum berdampak besar pada jumlah pembeli.
“Sekarang masih sepi. Biasanya mulai ramai tiga hari sebelum Lebaran,” kata Reni.
Ia menambahkan, kebanyakan pembeli adalah pemudik yang berhenti sejenak untuk beristirahat di jalur Bandung menuju Cianjur.
Reni menyebut, biasanya peningkatan pembeli terjadi pada malam hari karena udara lebih sejuk sehingga banyak pemudik memilih melanjutkan perjalanan saat itu.
“Kalau malam biasanya lebih ramai. Yang berhenti kebanyakan motor,” ujarnya.
Pedagang lain, Hani, juga memperkirakan lonjakan pembeli baru akan terasa mendekati Lebaran.
“Biasanya mulai ramai H-3 sampai H-1 Lebaran,” kata Hani.
Mia menambahkan, Jembatan Rajamandala sendiri sudah ada sejak 1980-an. Jalur ini sempat menjadi jalan berbayar sebelum akhirnya dibuka sebagai jalan umum pada 1996. **