BANDUNG – Upaya penanganan sampah di Kota Bandung mendapat perhatian dari artis sekaligus pegiat lingkungan, Irfan Hakim. Bersama Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, ia meninjau langsung kegiatan pengolahan sampah dan program Buruan Sae di Jasmine Integrated Farming, RW 19 Antapani Tengah, Minggu (22/2).
Kunjungan berlangsung penuh kehangatan. Ketua KSM Jasmine Integrated Farming, Dodi, menyampaikan rasa syukur atas perhatian pemerintah terhadap inisiatif warga yang sudah berjalan sejak 2019.
“Alhamdulillah, luar biasa. Pengurus, emak-emak, dan warga menyambut dengan senang hati. Apalagi ini bulan puasa, jadi berkah,” ujarnya.
Dodi menuturkan, perjalanan membangun sistem pengelolaan sampah terpadu bukan hal mudah. Sejak dirintis tujuh tahun lalu, berbagai tantangan dihadapi, mulai dari mengubah pola pikir warga hingga memperkuat manajemen operasional. Namun konsistensi akhirnya membuahkan hasil.
Kini, sampah yang dulunya dianggap beban lingkungan justru berubah menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Pengelolaan dilakukan secara terintegrasi: mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan untuk mendukung program Buruan Sae dan pertanian skala lingkungan.
“Dari awal memang rumit. Sekarang jadi ‘rujit jadi duit’. Sampah jadi berkah itu benar, karena dikelola dengan manajemen yang baik,” kata Dodi.
Ia menambahkan, Jasmine Integrated Farming bahkan lebih dulu dikenal luas oleh komunitas dan lembaga dari luar wilayah, bahkan luar negeri, yang datang untuk belajar tentang model pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini.
Dalam kunjungan tersebut, Wali Kota Bandung dan Irfan Hakim meninjau langsung proses pengolahan sampah organik maupun anorganik, serta pemanfaatannya untuk kegiatan pertanian terpadu.
Dodi menekankan, pesan penting dari kunjungan itu adalah mendorong penyelesaian persoalan sampah di tingkat RW atau komunitas.
“Kalau di kami, sampah tidak jadi masalah karena sudah selesai di tempat. Setiap harinya bisa mengolah 130 KG. Harapannya, RW lain bisa melakukan hal yang sama,” ungkapnya.
Model ini dinilai relevan dengan kondisi Kota Bandung yang tengah menghadapi tantangan pengelolaan sampah. Dengan pendekatan berbasis komunitas, beban pengangkutan ke tempat pembuangan akhir bisa ditekan sekaligus memberdayakan warga.
Dodi berharap gerakan pengelolaan sampah mandiri mendapat dukungan luas dari masyarakat Kota Bandung.
“Namanya sampah, kenapa harus dibuang ke tempat lain kalau bisa selesai di lingkungan sendiri? Mudah-mudahan langkah Pak Wali ini didukung seluruh warga,” ucapnya. **