Fly Over, ATCS, dan BRT Jadi Strategi Kota Bandung Lawan Macet

PEMBANGUNAN flyover menjadi salah satu strategi Pemkot Bandung atasi kemacetan. (Foto/Humas Pemkot Bandung)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Kemacetan masih jadi keluhan utama warga Bandung sekaligus tantangan besar bagi pariwisata dan ekonomi kota. Untuk itu, Pemerintah Kota Bandung menyiapkan tiga langkah strategis demi mengurai masalah klasik ini.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam Wawancara Khusus “Berita Satu Spesial” B-Tv bertema Satu Tahun Kepala Daerah, Sinergi Pusat & Daerah, Jumat (20/2).

Farhan mengakui, Bandung punya potensi besar di sektor pariwisata. Namun, sampah dan kemacetan masih jadi pekerjaan rumah yang menghambat target pertumbuhan daerah.

“Ada tiga hal yang akan dilakukan untuk menghadapi kemacetan ini,” ujar Farhan.

Langkah pertama adalah peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur jalan. Pemkot Bandung bekerja sama dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk pembangunan serta perbaikan jalan.

Ia menyebut, pemerintah pusat sudah menyelesaikan dua jalan layang utama. Tapi masih dibutuhkan enam fly over tambahan di lintasan kereta api serta tiga jembatan konektivitas di sekitar Stasiun KCIC Tegaluar dan wilayah Gedebage.

Selain itu, kualitas penerangan jalan umum (PJU) juga jadi perhatian, terutama di kawasan Jalan Soekarno-Hatta wilayah timur yang dinilai masih bermasalah.

Baca Juga:

Langkah kedua adalah penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan lewat sistem ATCS (Automatic Traffic Control System). Sistem ini diharapkan bisa mengatur lalu lintas lebih adaptif dan efisien.

Farhan menekankan, implementasi program ini tidak mudah karena butuh perencanaan matang serta koordinasi lintas pemerintah.

“Tidak mudahnya karena pengadaannya harus betul-betul perencanaan yang sangat baik karena melibatkan tiga organisasi besar, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota,” jelasnya.

Langkah ketiga adalah penguatan transportasi massal. Pemkot Bandung bersama Kementerian Perhubungan dan dukungan World Bank tengah mendorong dua program besar: pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) bersama Ditjen Perhubungan Darat serta studi kelayakan LRT bersama Ditjen Perkeretaapian.

Menurut Farhan, BRT akan melayani koridor timur–barat, sementara LRT menghubungkan jalur utara–selatan. Skema ini diharapkan jadi tulang punggung transportasi massal Bandung.

Namun, revitalisasi angkutan kota (angkot) tetap masuk dalam sistem baru. Angkot harus bertransformasi jadi feeder bagi BRT dan LRT agar sistem transportasi terintegrasi berjalan optimal.

Farhan juga menyoroti masalah mendasar: trayek angkot di Bandung belum berubah sejak 1984. Ketergantungan warga pada kendaraan pribadi sudah terlalu tinggi, sehingga perlu langkah revolusioner untuk mengembalikan minat masyarakat menggunakan transportasi umum.

“Terus terang sekarang ini kualitas kendaraan umum dan transportasi umum di Kota Bandung sangat tidak layak,” ungkapnya.

Farhan menegaskan, sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota jadi kunci percepatan realisasi program.

Menurutnya, pembenahan transportasi bukan hanya soal mengurai macet, tapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing pariwisata Bandung ke depan. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu