BMKG Bandung Ingatkan Warga Waspada Cuaca Ekstrem di Masa Peralihan, Angin Kencang hingga Hujan Es

PRAKIRAAN angin BMKG. (Foto/BMKG)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mengingatkan masyarakat agar lebih waspada menghadapi cuaca ekstrem yang kerap muncul saat masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa periode peralihan ini ditandai dengan melemahnya angin baratan dan mulai masuknya angin timuran. Kondisi tersebut memicu atmosfer menjadi tidak stabil.

“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh di Bandung, Senin (6/4).

Ia menambahkan, ketidakstabilan atmosfer itu memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) dalam jumlah besar. Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu hujan deras, kilat, hingga angin kencang.

BMKG mencatat, pada Jumat (3/4), hujan es sempat melanda sejumlah wilayah di Bandung. Peristiwa tersebut terjadi akibat pembentukan awan Cumulonimbus sejak siang hari sekitar pukul 12.00 WIB.

Dalam kejadian itu, kecepatan angin tercatat mencapai 42,6 km/jam. Dampaknya, beberapa pohon tumbang di sejumlah titik di kawasan Bandung Raya.

BMKG menjelaskan, hujan es terbentuk ketika uap air terbawa arus udara naik (updraft) menuju puncak awan dengan suhu sangat dingin. Uap air tersebut kemudian membeku dan jatuh ke permukaan saat arus udara melemah.

Karena itu, Teguh mengimbau masyarakat agar tetap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga hujan es.

“Selain itu kami juga meminta warga untuk menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko saat cuaca ekstrem terjadi,” kata Teguh Rahayu. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu