Wali Kota Bandung Akui BRT Akan Timbulkan Ketidaknyamanan, Tapi Manfaatnya Diyakini Besar

WALI Kota Bandung, H.M. Farhan. *
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) tetap berjalan meski menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Salah satu isu yang paling banyak disorot adalah rencana pembangunan halte di tengah jalan pada sejumlah ruas utama yang akan dilintasi koridor BRT.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pembangunan sistem transportasi massal tersebut memang tidak akan lepas dari tantangan. Namun, ia optimistis kehadiran BRT akan memberikan manfaat besar bagi warga Kota Bandung pada masa mendatang.

Menurutnya, kritik dan kekhawatiran yang muncul merupakan hal yang wajar karena proyek tersebut akan membawa perubahan besar terhadap sistem transportasi dan tata ruang jalan di Kota Bandung.

“BRT ini memang pilihan yang harus kita pilih. Dari sejak awal sebelum saya dilantik saya sudah mendapatkan BRT ini dan saya sudah keliling berkali-kali jalur BRT,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (14/9/2026).

Farhan mengakui konsep halte yang dibangun di tengah jalan menjadi salah satu hal yang paling banyak dipertanyakan masyarakat. Sejumlah kawasan yang akan menerapkan konsep tersebut antara lain Cicadas, Jalan Jakarta, Ciroyom hingga Pasar Baru.

Menurut dia, tidak sedikit warga yang meragukan efektivitas maupun aspek keselamatan dari konsep itu. Meski demikian, Farhan menilai setiap inovasi transportasi publik membutuhkan proses sebelum manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.

“Memang agak susah membayangkan bahwa di tengah Jalan Cicadas, Jalan Jakarta, sampai wilayah Ciroyom dan Pasar Baru akan ada halte-halte di tengah jalan. Perdebatan tentu tidak pernah berhenti, namun bagaimanapun juga pilihannya tetap dilaksanakan,” katanya.

Ia menjelaskan, konsep BRT Bandung merupakan program yang disusun bersama Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Karena itu, Pemkot Bandung terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyerap aspirasi warga sekaligus mencari solusi atas potensi persoalan yang muncul selama proses pembangunan.

“Kami akan terus menyerap berbagai macam aspirasi dari masyarakat tentang ketidaknyamanan akibat dari BRT ini,” ujarnya.

Pada tahap awal, koridor BRT Bandung akan melayani jalur timur-barat yang menghubungkan sejumlah pusat aktivitas masyarakat. Rutenya dimulai dari Kiaracondong menuju Alun-alun Bandung, lalu berlanjut ke kawasan Stasiun Selatan, Jalan Kebonjati, Otista, Tegalega dan kembali ke koridor timur.

Farhan mengatakan, kehadiran BRT diharapkan dapat mengubah pola mobilitas masyarakat. Untuk mendukung sistem tersebut, pemerintah juga menyiapkan layanan feeder yang terintegrasi dengan koridor utama BRT.

Feeder itu akan memanfaatkan angkutan kota yang saat ini sudah beroperasi di Bandung. Nantinya, armada angkot akan diremajakan agar lebih nyaman dan sesuai dengan kebutuhan transportasi modern.

“Feeder ini adalah angkot-angkot yang selama ini kita kenal. Akan ada peremajaan angkot dan mudah-mudahan kita bisa segera mendapatkan kesepakatannya untuk angkot yang baru,” tuturnya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga masih menunggu realisasi layanan angkutan umum menuju Bandara Husein Sastranegara guna memperkuat konektivitas transportasi publik di Kota Bandung.

Terkait pembangunan halte di tengah jalan, Farhan menegaskan bahwa rencana tersebut tetap dilaksanakan karena sudah menjadi bagian dari desain dasar sistem BRT.

“Kalau pembangunan halte yang di tengah itu tetap akan berlanjut. Itu bagian dari konsep, saya tidak bisa melawan karena bagaimanapun juga itu bagian dari desain BRT,” ucap Farhan.

Meski demikian, ia memastikan aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama. Salah satu opsi yang akan dipertimbangkan adalah pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) apabila hasil kajian menunjukkan kebutuhan tersebut.

“Kalau memang ternyata membahayakan maka saya akan paksakan ada JPO di atas itu. Tapi itu sangat tergantung kepada hasil perhitungan nanti pelaksanaan proyek ini sendiri,” katanya.

Untuk menunjang keberhasilan sistem transportasi baru itu, Pemkot Bandung juga membuka peluang investasi bagi pihak swasta untuk membangun fasilitas parkir di sekitar koridor BRT.

Farhan menyebut penyediaan lahan parkir menjadi salah satu tantangan besar, terutama di kawasan strategis seperti Dago, Pasar Baru, Stasiun Hall, Asia Afrika hingga Kiaracondong.

“Kami akan melakukan penawaran terbuka kepada calon investor yang akan membangun fasilitas parkir di titik-titik sekitar koridor BRT,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Farhan tetap optimistis BRT Bandung dapat berjalan sukses. Optimisme itu muncul setelah melihat penerapan sistem serupa di Kota Medan yang dinilainya memiliki karakteristik jalan, luas wilayah dan kepadatan penduduk yang relatif mirip dengan Bandung.

“Saya sudah tiga kali ke Kota Medan mencoba BRT-nya. Kelihatannya berhasil. Setelah jadi masyarakat lebih nyaman, walaupun saat pembangunannya memang sangat menantang,” ungkapnya.

Farhan menegaskan keberhasilan BRT tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga dukungan masyarakat dalam beradaptasi dengan sistem transportasi baru.

“Kami sangat terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik. Tetapi ini proyek nasional, jadi Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan Jawa Barat, dan Dinas Perhubungan Kota Bandung harus membahasnya bersama. Tidak mungkin saya membuat keputusan sendiri,” kata Farhan.

Ia berharap masyarakat dapat merasakan manfaat transportasi publik yang lebih nyaman, terintegrasi, dan mampu mengurangi kemacetan setelah seluruh sistem BRT beroperasi.

“Setelah jadi, harapannya masyarakat akan merasakan manfaatnya. Memang proses pembangunannya menantang, tetapi kita ingin menghadirkan sistem transportasi yang lebih baik untuk masa depan Kota Bandung,” tuturnya. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu