CILACAP – Kalau lagi mudik lewat jalur selatan Jawa, jangan cuma fokus ke kampung halaman. Ada satu spot keren di Cilacap yang wajib disinggahi: Benteng Pendem. Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini masih berdiri gagah, meski sebagian besar strukturnya tersembunyi di bawah tanah. Di balik dinding tebalnya, tersimpan cerita panjang tentang strategi pertahanan Belanda di pesisir selatan Jawa.
Dikutip dari ANTARA, Sub Koordinator Lapangan Benteng Pendem, Aris, menjelaskan kalau benteng ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1861 sampai 1879. Nama “Pendem” sendiri muncul karena cara pembangunannya unik: setelah selesai, bangunan ditimbun tanah hingga tampak seperti terkubur.
“Karena bangunannya ditimbun tanah, masyarakat menyebutnya benteng dipendem,” ujarnya.
Benteng ini dulunya jadi bagian dari sistem pertahanan Belanda untuk menghadang kapal musuh yang masuk ke Pelabuhan Alam Cilacap. Lokasinya strategis banget, berada di tanah yang menjorok ke laut, sehingga bisa dipakai untuk mengawasi pergerakan kapal. Benteng Pendem juga jadi pertahanan kedua setelah benteng di Nusakambangan.
Yang bikin Benteng Pendem makin unik adalah konstruksinya yang sebagian besar di bawah tanah. Bangunan ini baru digali lagi pada 1986–1987 setelah lama tertimbun. Di dalamnya ada sekitar 102 bangunan peninggalan Belanda dan Jepang.
“Kalau Belanda membangun dulu baru ditimbun, kalau Jepang membuat lubang dulu baru dibangun,” kata Aris.
Materialnya juga beda. Belanda pakai batu bata dengan berbagai ukuran dan warna, sementara Jepang lebih memilih beton.
“Jadi yang paling kecil, yang 30 gram sampai 6 kilogram batu batanya. Jadi warnanya pun juga ada yang kuning, ada yang merah, gitu batu batanya,” ujar Aris.
Benteng ini punya fasilitas militer lengkap: barak prajurit, ruang logistik, sampai penjara dengan dinding setebal 2,5 meter. Penjara terdiri dari tiga ruangan yang bisa menampung 30 tahanan. Ada juga terowongan sepanjang 150 meter dengan ruang meriam dan akses keluar-masuk darurat.
“Di sana ada empat pintu masuk dan satu pintu keluar menuju arah laut untuk kondisi darurat,” ujar Aris.
Meski begitu, Aris menegaskan tidak ada terowongan yang tembus ke Nusakambangan. “Kalau yang tembus ke Nusakambangan itu hanya cerita masyarakat saja,” katanya.
Benteng Pendem punya luas sekitar 10,5 hektare dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 2010.
Pengelolaan Benteng Pendem saat ini dilakukan secara mandiri, dengan biaya dari tiket pengunjung. “Dari pendapatan itu digunakan untuk operasional, termasuk perawatan dan gaji karyawan,” kata Aris.
Untuk menjaga kondisi bangunan, pengelola punya aturan khusus, misalnya tidak boleh pakai bahan kimia untuk membersihkan rumput. “Pembersihan rumput tidak boleh menggunakan obat, harus dicabut manual,” ujarnya.
Saat Ramadhan, pengunjung biasanya sepi. Tapi begitu Lebaran tiba, jumlah wisatawan bisa melonjak drastis. “Kalau Lebaran bisa sekitar 500 sampai 1.000 pengunjung per hari,” katanya.
Mayoritas pengunjung datang dari Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Tapi banyak juga wisatawan dari luar kota, termasuk Jakarta.
“Biasanya terlihat dari plat kendaraan, banyak dari luar kota,” ujarnya.
Spot favorit pengunjung buat foto antara lain area depan terowongan, ruang barak, dan penjara. Selain itu, ada juga rusa yang sering muncul di area benteng, jadi daya tarik tambahan. Benteng Pendem buka setiap hari dari jam 06.00 sampai 17.00 WIB dengan tiket masuk Rp7.500 per orang.
“Harapan kami setelah Lebaran pengunjung bisa meningkat,” katanya.
Buat pemudik yang lewat jalur pantai selatan, mampir ke Benteng Pendem bisa jadi pilihan seru. Nggak cuma belajar sejarah, tapi juga menikmati suasana unik sebelum melanjutkan perjalanan mudik.