KARAWANG – Suasana mudik di Karawang, Jawa Barat, Rabu (17/3) malam benar-benar ramai. Ribuan pemudik yang mengendarai sepeda motor terlihat “menyemut” memenuhi jalur arteri hingga Pantura. Dari sore sampai tengah malam, arus kendaraan nyaris tak putus.
Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan mulai terasa sejak memasuki wilayah Tanjungpura, tepat di perbatasan Bekasi-Karawang. Sejak sore, barisan motor sudah memenuhi jalan, terus mengalir tanpa henti menuju jalur Pantura.
Pemandangan iring-iringan motor itu mirip barisan semut di dinding, bergerak pelan tapi tak pernah berhenti. Dari sore hingga tengah malam, jalur arteri Karawang dipenuhi pemudik yang memilih jalur darat dengan motor.
Banyak pemudik sengaja berangkat malam hari. Alasannya sederhana: menghindari panas terik dan kemacetan yang lebih parah di siang hari.
“Kalau malam, meskipun macet tidak terlalu panas,” kata Ayub, pemudik asal Bekasi yang akan menuju Indramayu.
Ayub berangkat bersama lima temannya sejak sore. Semua menggunakan motor.
“Ya alhamdulillah, (mudiknya) setiap tahun selalu pakai motor. Lebih hemat dan santai,” katanya.
Saat ditemui di Cikampek, Ayub mengaku beberapa kali terjebak macet. Titik macet yang ia sebut antara lain di Cikarang, perbatasan Bekasi-Karawang, dan beberapa ruas di Karawang.
Karno, pemudik lain, mengeluhkan kondisi jalan yang gelap karena lampu penerangan jalan umum banyak yang mati. “Ya berbahaya saja, harus waspada, apalagi kalau kendaraan kita lampunya tidak cukup terang,” kata dia.
Pantauan menunjukkan lampu PJU padam di sepanjang Lingkar Bypass Tanjungpura Karawang. Kondisi gelap terlihat dari wilayah Tanjungpura hingga Bundaran Disnakertrans Karawang, membuat pemudik harus ekstra hati-hati. **