JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah RI menegaskan pemantauan ketat terhadap kondisi jamaah umrah asal Indonesia di Arab Saudi. Hal ini menyusul meningkatnya eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada sejumlah penerbangan dari dan menuju negara tersebut.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengikuti perkembangan situasi dengan cermat.
“Kami mengimbau kepada seluruh jamaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini,” ujar Puji Raharjo dalam keterangan di Jakarta, Minggu (1/3).
Berdasarkan laporan dari Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), tercatat sekitar 58.873 jamaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Pemerintah memastikan seluruh jamaah dalam kondisi terpantau melalui koordinasi intensif dengan perwakilan RI dan otoritas setempat.
Puji menjelaskan, eskalasi keamanan di Timur Tengah turut memengaruhi operasional sejumlah maskapai penerbangan. Beberapa maskapai dilaporkan melakukan perubahan rute maupun penundaan jadwal sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika situasi regional.
Kondisi ini berdampak pada jadwal keberangkatan dan kepulangan jamaah umrah Indonesia, baik yang saat ini berada di Arab Saudi maupun yang masih menunggu jadwal keberangkatan di tanah air.
Ia meminta seluruh PPIU menjalin komunikasi aktif dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, dan KBRI Riyadh agar setiap perkembangan bisa segera ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.
“Kemenhaj terus berkoordinasi dengan instansi terkait, baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi, untuk memastikan keamanan dan keselamatan jamaah umrah Indonesia tetap menjadi prioritas utama,” katanya.
Pemerintah menegaskan komitmen memberikan perlindungan maksimal kepada jamaah serta memastikan setiap penyesuaian kebijakan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.
Selain itu, Kemenhaj juga mengimbau keluarga jamaah di tanah air agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya. Komunikasi resmi disarankan dilakukan melalui PPIU masing-masing guna memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. **