YOGYAKARTA – Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah menyiapkan program imunisasi human papillomavirus (HPV) bagi anak usia 11 tahun. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dini terhadap kanker serviks.
Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, menjelaskan bahwa rencana pemberian vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun yang akan dimulai pada 2027 oleh Kementerian Kesehatan RI masih dalam tahap sosialisasi.
“Program untuk anak laki-laki masih dalam taraf penggodokan, persiapan, dan sosialisasi,” ujar Anung di Yogyakarta, Minggu (22/2).
Saat ini, imunisasi HPV di DIY masih difokuskan pada anak perempuan serta perempuan usia subur. Menurut Anung, vaksinasi ini bertujuan mencegah infeksi human papillomavirus yang menjadi salah satu faktor risiko utama kanker serviks.
“Saat ini memang imunisasi HPV itu masih fokus pada wanita-wanita usia subur,” ujarnya.
Dinkes DIY juga sudah melakukan sosialisasi ke kabupaten/kota dan memastikan stok vaksin tersedia dengan aman. Anung menekankan bahwa pemberian vaksin HPV pada anak usia 11 tahun dilakukan sebagai langkah pencegahan sebelum terjadi paparan infeksi.
Pada kelompok usia ini, lanjutnya, imunisasi bisa diberikan tanpa pemeriksaan awal seperti tes IVA maupun “Pap smear”.
Sementara itu, bagi perempuan dewasa yang ingin menerima vaksin HPV, harus dipastikan terlebih dahulu tidak ada tanda-tanda kanker serviks melalui pemeriksaan kesehatan. Hal ini dilakukan agar penanganan bisa segera diberikan jika ditemukan kelainan.
Anung menambahkan, imunisasi merupakan strategi pemerintah untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks, yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan.
“Imunisasi itu untuk pencegahan. Salah satu faktor risiko kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus, maka dicegah lebih dulu melalui vaksinasi,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemerintah akan memperluas cakupan imunisasi HPV dengan menyasar anak laki-laki usia 11 tahun mulai 2027. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi nasional pencegahan kanker serviks yang selama ini identik menyerang perempuan.
Kemenkes menilai vaksinasi sejak usia dini penting untuk memutus rantai penularan human papillomavirus sekaligus menekan angka kejadian kanker serviks di Indonesia.
“Pada 2027 kita akan mulai ke laki-laki usia 11 tahun. Meskipun mereka tidak bisa menderita kanker serviks, tetapi bisa transmitting the disease (membawa penyakitnya ke pasangan). Mereka mungkin tidak akan kena kanker serviks, tetapi bisa menjadi pembawa,” ujar Budi pada peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta, Rabu (4/2). **