Mitigasi Jangka Panjang di Gunung Burangrang Pasca Longsor yang Memakan Korban Jiwa

EVAKUASI korban longsor di lereng Gunung Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Jabarku.id)
750 x 100 AD PLACEMENT

CISARUA – Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, hujan deras yang mengguyur kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memicu longsor besar di lereng Gunung Burangrang. Sekitar pukul 02.30 WIB, material tanah vulkanik yang jenuh air meluncur deras dari lereng atas, membawa batuan andesit dan vegetasi.

Aliran tanah bercampur air itu menyerupai sungai cokelat yang tiba-tiba menghantam pemukiman warga di Kampung Babakan RT 05/RW 11, Pasirkuning, Desa Pasirlangu. Puluhan rumah warga tertimbun material lumpur dan puing.

Suasana kampung yang tenang berubah mencekam ketika sebagian besar penduduk masih terlelap tidur. Warga yang selamat berlari menyelamatkan diri, sementara jeritan minta tolong terdengar dari rumah-rumah yang tertimbun.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa rentannya kawasan lereng vulkanik terhadap curah hujan ekstrem, terlebih dengan adanya alih fungsi lahan yang memperlemah daya serap tanah.

Setelah longsor besar yang menelan korban jiwa, perhatian kini beralih pada bagaimana mencegah kejadian serupa terulang. Gunung Burangrang, dengan tanah vulkanik yang rapuh, membutuhkan penanganan serius agar tidak terus menjadi ancaman bagi warga di sekitarnya.

Untuk strategi mitigasi jangka panjang di kawasan Gunung Burangrang, para ahli kebencanaan menekankan bahwa bencana longsor seperti yang terjadi di Pasirkuning bukan hanya akibat curah hujan ekstrem, tetapi juga karena kondisi lahan yang semakin kritis.

Beberapa langkah antisipasi yang kini mulai dibicarakan oleh pemerintah daerah dan para pakar:

1. Rehabilitasi Lahan Kritis
Lereng yang selama ini digunakan untuk pertanian intensif perlu direhabilitasi. Penanaman kembali vegetasi hutan dengan pohon berakar kuat akan membantu memperkuat struktur tanah dan meningkatkan daya serap air.

2. Pengendalian Alih Fungsi Lahan
Pemerintah daerah bersama aparat desa harus memperketat izin pembukaan lahan di kawasan rawan longsor. Alih fungsi hutan menjadi kebun sayuran terbukti memperlemah daya dukung tanah, sehingga kebijakan tata ruang harus lebih disiplin.

3. Sistem Peringatan Dini
Pemasangan sensor curah hujan dan alat pemantau pergerakan tanah di lereng Gunung Burangrang dapat memberikan peringatan dini kepada warga. Dengan sistem ini, evakuasi bisa dilakukan lebih cepat sebelum longsor terjadi.

4. Relokasi Pemukiman Rawan
Beberapa kampung yang berada tepat di bawah lereng kritis, seperti Kampung Babakan, perlu dipertimbangkan untuk relokasi. Meski sulit, langkah ini bisa menyelamatkan nyawa warga di masa depan.

5. Edukasi dan Simulasi Bencana
Warga harus dibekali pengetahuan tentang tanda-tanda longsor dan cara evakuasi cepat. Simulasi rutin akan membuat masyarakat lebih siap menghadapi kondisi darurat.

Tragedi longsor di Gunung Burangrang menjadi peringatan keras bahwa bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Dengan kombinasi rehabilitasi lahan, sistem peringatan dini, dan penataan ruang yang lebih ketat, diharapkan kawasan ini bisa lebih aman bagi ribuan warga yang tinggal di sekitarnya. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu