Bandung Barat Berduka, Longsor di Lereng Gunung Burangrang Memakan 8 Korban Jiwa dan Puluhan Orang Hilang

LONGSOR di lereng Gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat memakan korban jiwa. (Foto: Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

CISARUA – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak Jumat (23/1) malam memicu bencana longsor di lereng Gunung Burangrang, tepatnya di Kampung Babakan RT 05/RW 11, Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Longsor terjadi pada Sabtu (24/1)  dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, ketika curah hujan ekstrem melampaui ambang serap tanah vulkanik sehingga memicu Aliran Bahan Rombakan (Debris Flow).

Material tanah dari lereng atas meluncur deras, membawa batuan andesit dan vegetasi, lalu menghantam pemukiman di bawahnya dengan daya tekan hidrostatik yang masif. Aliran lumpur bercampur puing itu menutup lahan produktif dan permukiman warga hingga beberapa hektar, membuat suasana kampung seketika berubah menjadi lautan lumpur.

Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban. Hingga laporan terakhir, tercatat 8 orang meninggal dunia. Korban meninggal sebagian ditemukan tertimbun di bawah reruntuhan rumah.

Korban meninggal atas nama Nurhayati (RT 01/RW10), Sunarya (RT 05/RW 11), Nining (RT 05/RW 11), Rahmat (RT 05/RW 11), Aah (RT 05/RW 11), Jajang Taryana (RT 05/RW 11), dan Dadang (RT 01/RW 11).

Sebanyak 7 orang mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke RSUD Cibabat serta Puskesmas Cisarua. Sementara itu, 82 orang masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilakukan di titik-titik yang diperkirakan menjadi lokasi tertimbunnya warga.

Sekitar 400 jiwa terpaksa mengungsi ke GOR Desa Pasirlangu dan rumah kerabat yang lebih aman. Di sisi lain, 30–32 unit rumah rusak berat, sebagian rata dengan tanah. Kondisi di lapangan masih sangat dinamis karena hujan belum berhenti, sehingga meningkatkan risiko longsor susulan.

BPBD Jawa Barat bersama aparat setempat telah mendirikan posko darurat dan menyalurkan bantuan logistik bagi para pengungsi. Namun, proses evakuasi masih terkendala cuaca buruk dan kondisi tanah yang labil.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan pencarian di titik-titik reruntuhan. Namun, proses evakuasi terkendala oleh hujan yang terus turun, meningkatkan risiko longsor susulan. Hingga Sabtu siang, baru 23 warga berhasil ditemukan selamat.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninjau langsung lokasi bencana dan menegaskan bahwa alih fungsi lahan di kaki Gunung Burangrang dari hutan menjadi pertanian sayuran turut memperparah kondisi tanah yang kritis. Hal ini membuat kawasan semakin rentan terhadap longsor ketika curah hujan ekstrem terjadi.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa rentannya kawasan lereng vulkanik terhadap curah hujan ekstrem, terlebih dengan adanya alih fungsi lahan yang memperlemah daya serap tanah. Warga di sekitar Gunung Burangrang kini diminta tetap siaga dan menjauhi area rawan demi keselamatan.

Sementara itu ahli menekankan perlunya rehabilitasi lahan kritis di kaki Gunung Burangrang serta sistem peringatan dini berbasis curah hujan ekstrem untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak di masa depan. **

 

 

 

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu