Pemkot Jadikan Camat dan Lurah Motor Pengendalian TBC di Kota Bandung

CAMAT dan lurah se Kota Bandung sepakat memerangi TBC. (Foto/Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung semakin serius dalam upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC). Kali ini, aparat kewilayahan dilibatkan langsung lewat sosialisasi yang digelar Dinas Kesehatan Kota Bandung di Auditorium Balai Kota, Selasa (19/2).

Sekitar 50 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari camat, lurah, perwakilan forum RW, serta unsur lintas sektor yang diharapkan bisa menjadi penggerak di wilayah masing-masing.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain menegaskan bahwa pengendalian TBC merupakan perhatian utama pemerintah. Program ini juga menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Republik Indonesia. “Karena itu kita mengundang kewilayahan. Program ini melibatkan kita semua,” ujar Zulkarnain.

Ia menekankan pentingnya peran camat dan lurah dalam menggerakkan masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Strategi yang digunakan adalah 3T: testing, tracing, dan treatment.

Menurutnya, TBC adalah penyakit menular sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan setengah-setengah. “Kalau satu orang terkena, bukan hanya dia yang dites, tetapi orang-orang di sekelilingnya juga harus diperiksa. Pengobatannya pun harus tuntas, kurang lebih enam bulan dan tidak boleh terputus,” katanya.

Data yang dipaparkan dalam kegiatan menunjukkan jumlah kasus TBC di Kota Bandung mencapai 18.846 kasus. Angka ini belum menunjukkan penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pemkot Bandung menargetkan angka tersebut bisa ditekan melalui gerakan yang lebih aktif dan terkoordinasi. “Kita tidak ingin hanya menjaga agar tidak naik. Harus turun,” tegas Zulkarnain.

Selain mendukung PHTC, Pemkot Bandung juga memperkuat Gerakan Bersama Mengakhiri TBC (Geber TBC), melaksanakan TOS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh), memberikan terapi pencegahan TBC, serta membentuk Kelurahan Siaga TBC di setiap wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam menambahkan bahwa penanganan TBC tidak bisa dilakukan hanya oleh Dinas Kesehatan. “Dinas Kesehatan tidak mampu melakukannya sendiri. Kota Bandung harus bergerak lebih cepat dan lebih masif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, evaluasi capaian penanganan TBC akan terus dilakukan lewat forum lokakarya mini di Puskesmas setiap bulan. Dengan begitu, progres di tingkat kecamatan bisa dipantau dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Melalui sosialisasi ini, Pemkot Bandung berharap lahir komitmen bersama antara perangkat daerah dan kewilayahan untuk mempercepat penurunan angka TBC di Kota Bandung. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu