#1ThBandungUtama: Program RMP Jadi Penopang, Ribuan Anak Bandung Tetap Bisa Sekolah

RMP dan perbaikan sarana pendidikan, jaga asa anak tetap sekolah. (Foto/Humas Pemkot Bandung)
750 x 100 AD PLACEMENT

BANDUNG – Bagi sebagian anak, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang bertemu teman, berbagi cerita, dan menumbuhkan cita-cita.

Namun, keterbatasan ekonomi keluarga sering kali membuat pendidikan terancam. Hal-hal sederhana seperti seragam, sepatu, atau alat tulis bisa jadi penentu apakah anak tetap bersekolah atau berhenti.

Dalam satu tahun perjalanan visi Bandung Utama, Program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP) hadir sebagai upaya menjaga agar anak-anak tetap melangkah ke sekolah tanpa terhenti persoalan biaya dasar.

Nataly El Marco, siswa kelas 6 SD Kemala Bhayangkara, mengaku bahagia bisa terus bersekolah dan bertemu teman-temannya setiap hari. “Rasanya bahagia terus, karena di rumah juga suka enggak ada kerjaan. Di sekolah bisa belajar, bisa ketemu teman, bisa dapat ilmu juga,” ujarnya.

Bantuan yang diterimanya dipakai untuk membeli sepatu, seragam, ikat pinggang, dasi, dan topi. Bagi Marco, perlengkapan itu bukan sekadar barang, tapi semangat baru untuk terus belajar. Ia bercita-cita jadi pemain bola.

Hal serupa dirasakan Krisna Ananda Putra, teman sekelasnya. “Senang. Soalnya di rumah sedikit temannya, jadi di sekolah banyak. Sama bisa dapat ilmu juga,” katanya.

Bantuan yang diterimanya digunakan untuk membeli seragam, topi, sepatu, dan alat tulis. Krisna punya mimpi jadi gamer dan melakukan siaran langsung di platform digital.

Sementara itu, Gilang Adriansyah menyebut sekolah sebagai tempat bersosialisasi dan mencari ilmu. “Senang karena bisa bersosialisasi, bertemu teman-teman, dan mencari banyak ilmu,” ucapnya.

Bantuan yang ia terima digunakan untuk membeli seragam, sepatu, topi, dan perlengkapan sekolah lainnya. Ia juga bercita-cita jadi pemain bola.

Berbeda kelas, namun semangatnya sama, Al Jenafat Odelayapi, siswa kelas 5, merasa tenang saat berada di sekolah. “Di rumah enggak ada teman,” katanya.

Bantuan yang diterimanya dipakai untuk membeli sepatu, baju, dan topi. Ia pun makin bersemangat melanjutkan pendidikan dan bercita-cita jadi pemain bola.

Program RMP bukan sekadar angka dalam laporan tahunan. Di baliknya, ada ribuan anak yang kembali punya ruang untuk bertahan di bangku sekolah.

Data Dinas Pendidikan Kota Bandung tahun 2025 mencatat RMP menjangkau 22.924 siswa SD dan SMP.

Di jenjang SD, bantuan diberikan kepada 8.379 siswa dengan total anggaran lebih dari Rp12 miliar, terdiri dari biaya personal dan perlengkapan.

Sedangkan di jenjang SMP, sebanyak 14.545 siswa menerima manfaat dengan total anggaran lebih dari Rp26 miliar.

Secara keseluruhan, Pemkot Bandung mengalokasikan lebih dari Rp38 miliar untuk memastikan anak-anak dari keluarga rentan tetap bisa bersekolah. Angka-angka itu menggambarkan keberpihakan pada masa depan. RMP jadi jaring pengaman agar persoalan ekonomi tidak memutus mimpi anak-anak untuk terus belajar.

Bagi sebagian keluarga, bantuan ini bisa jadi penentu: antara tetap melanjutkan sekolah atau berhenti di tengah jalan. Selama satu tahun terakhir, ribuan anak di Kota Bandung memilih bertahan, karena ada negara yang hadir menjaga asa mereka.

Selain lewat RMP, Pemkot Bandung juga memperkuat infrastruktur pendidikan dengan pembangunan dan rehabilitasi sarana sekolah sepanjang 2025.

Rekap kegiatan menunjukkan pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang kelas, hingga pembenahan fasilitas penunjang seperti toilet sekolah. Di jenjang SMP, ruang kelas baru dibangun untuk menambah daya tampung dan mengurangi kepadatan belajar.

Rehabilitasi ruang kelas juga dilakukan di puluhan sekolah agar proses belajar mengajar lebih aman dan nyaman. Tak hanya ruang kelas, perbaikan toilet sekolah jadi perhatian serius. Rehabilitasi fasilitas sanitasi dilakukan di banyak SMP negeri untuk meningkatkan standar kebersihan.

Sementara di jenjang SD, pembangunan dan rehabilitasi menyasar ruang kelas, toilet, serta fasilitas pendukung lainnya. Langkah ini jadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan belajar yang layak, terutama bagi sekolah-sekolah dengan kondisi bangunan yang sudah butuh perbaikan.

Upaya pembangunan ini memastikan keberpihakan pada pendidikan tidak hanya berhenti pada bantuan biaya, tapi juga menghadirkan ruang belajar yang aman, sehat, dan bermartabat.

Sebab menjaga asa anak untuk tetap sekolah bukan hanya soal membayar kebutuhan belajar, tapi juga memastikan mereka punya ruang layak untuk tumbuh dan berkembang. **

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukainya
930 x 180 AD PLACEMENT

Beritanya Orang Bandung

Menu