BANDUNG – Kota Bandung kembali mendapat perhatian sebagai salah satu contoh pengelolaan kota yang dinilai berhasil. Kali ini, Pemerintah Kota Pangkalpinang melakukan kunjungan kerja untuk mempelajari berbagai praktik yang diterapkan Bandung, khususnya dalam hal kebersihan, layanan sosial, dan sektor pendidikan.
Pada Jumat (13/2), rombongan dari Pangkalpinang mendatangi Balaikota Bandung. Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, dan disambut oleh Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain.
Dalam pertemuan itu, Zulkarnain menjelaskan bahwa Bandung memiliki karakter sebagai kota jasa. Kondisi tersebut membuat kualitas pelayanan publik menjadi penopang utama, mulai dari kebersihan lingkungan, penanganan masalah sosial, hingga dukungan terhadap dunia pendidikan.
“Kota Bandung ini memang kota yang tidak mempunyai sumber daya alam. Jadi memang pendapatan kita sangat tergantung pada pelayanan, baik itu pelayanan komersial seperti restoran, hotel, dan lain-lain. Dari pajak-pajak itulah kami bisa membiayai seluruh kegiatan di sini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bagaimana pendapatan daerah Bandung dipengaruhi oleh aktivitas pariwisata dan sport tourism. Namun, tantangan tetap ada, terutama karena adanya pengurangan bantuan keuangan dari pemerintah pusat.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menyampaikan bahwa kotanya memiliki karakteristik yang mirip dengan Bandung. Pangkalpinang juga merupakan kota jasa dengan wilayah yang tidak terlalu luas, namun memiliki kepadatan penduduk yang menuntut pengelolaan layanan publik secara efektif.
“Kami ini sama-sama kota. Sedikit banyak sudah tahu bagaimana keadaan kota. Walaupun kecil, kami juga cukup sulit. Salah satunya untuk mengelola sampah,” katanya.
Dessy menekankan bahwa pengelolaan sampah menjadi isu penting di Pangkalpinang. Hal ini sejalan dengan gerakan kebersihan nasional yang semakin digencarkan.
Karena itu, pihaknya ingin menimba pengalaman dari Bandung, terutama dalam hal melibatkan masyarakat hingga tingkat RT dan RW.
“Masalah sampah, masalah kebersihan, apalagi gerakan Indonesia Asri. Sekarang kami sudah mulai gotong royong di kecamatan, di RT RW, di OPD-OPD. Kedatangan kami ini untuk belajar, untuk mendapatkan insight yang nanti bisa kami terapkan di Kota Pangkalpinang,” ujar Dessy.
Selain fokus pada kebersihan, rombongan Pangkalpinang juga mencari informasi mengenai penanganan anak jalanan dan tunawisma, serta program revitalisasi sekolah dasar dan menengah yang telah dijalankan Bandung.
Dessy mengakui bahwa sejumlah persoalan sosial di Pangkalpinang memiliki kesamaan dengan yang dihadapi Bandung. Oleh karena itu, pengalaman Bandung dianggap relevan untuk dijadikan bahan pembelajaran.
“Permasalahan kita kurang lebih sama, terkait sampah dan juga masalah-masalah sosial tadi. Kami berharap ini bermanfaat untuk nanti kami terapkan di Kota Pangkalpinang,” terangnya.
Kunjungan kerja tersebut ditutup dengan diskusi teknis antarperangkat daerah. Fokus pembahasan diarahkan pada dinas yang menangani lingkungan hidup, pendidikan, dan sosial, agar pemahaman terhadap praktik yang sudah berjalan di Bandung bisa lebih mendalam. **